La Luna adalah salah satu film asal Malaysia yang tayang pada tahun 2023 lalu. Film ini ber-cerita tentang desa Bras Basah yang memiliki hukum konservatif di bawah naungan sang tetua desa. Adalah Tok Hassan, seseorang yang dituakan di desa Bras Basah. la digambarkan sebagai seorang yang kaku, otoriter, tidak menyukai perubahan, dan menggunakan Agama sebagai topeng untuk kepentingan ego pribadinya. Semua hukum, prilaku, bahkan hal-hal detail yang masuk dalam ranah privasi berada dalam kendali Tok Hassan.
Tokoh Tok Hassan yang otoriter dan konservatif ini dibenturkan dengan tokoh Hanie Adbullah yang membawa banyak perubahan pada desa Bras Basah lewat La Luna; toko pakaian dalam wanita milik Hanie. Hanie yang awalnya kurang disambut baik oleh masyarakat (karena pengaruh Tok Hassan), pada akhirnya berhasil diterima dan mewarnai hari-hari desa Bras Basah. Hal ini tentu menyulut kemarahan Tok Hassan, ia pun banyak melakukan usaha untuk menutup La Luna.
Film ini sukses mengocok perut bahkan dari menit awal tayangnya. Komedi-komedi yang disampaikan bukan komedi kosong, melainkan komedi yang sarat akan satire realita masyarakat saat ini. Di mana banyak orang yang menjadikan Agama sebagai tameng dari hasrat egonya. Beberapa komedi di film ini memang berbau ‘komedi dewasa’ seperti urusan ranjang suami istri, namun saya rasa ini adalah cara unik sang sutradara dalam membungkus La Luna dan menjadi daya tariknya tersendiri.

La Luna juga mengangkat isu wanita seperti kekerasan rumah tangga yang dilakukan suami terhadap istrinya. Lagi-lagi, film ini menyentil dengan tepat prilaku orang-orang yang menjadikan dalil Agama sebagai pembenaran dari prilakunya. Di mana biasanya seorang suami memanipula-si istri yang dianiaya olehnya dengan dalil bahwa istri harus menurut kepada suami dan suami mempunyai cara mendidik istrinya masing-masing. Satire ini sampai dengan jelas tanpa kesan menggurui.
Suasana film diperhangat dengan tokoh seperti Cik Ihin dan anaknya Azura yang memiliki hubungan love-hate relationship sebagai ayah dan anak. Tokoh Azura di film ini adalah represen-tasi dari para remaja Gen Z saat ini yang jujur, menyukai kebebasan berpendapat, fleksibel, dan tidak menyukai hal-hal yang kaku. Interaksi Azura sebagai Gen Z dengan masyarakat antar gener-asi juga menambah bumbu komedi yang makin menghidupkan suasana film.
Banyak menyentil isu konservatif, La Luna rawan terjebak narasi menggurui dengan men-awarkan nilai-nilai baru pada masyarakat. Namun, sang sutradara dapat membawa La Luna men-jadi ‘teman’ yang tidak terlalu menuntun. Ending yang ditawarkan La Luna juga hangat dan cukup memuaskan. Setelah tertawa lepas karena tingkah masyarakat desa Bras Basah, saya dibuat me-neteskan air mata haru.
Namun, seperti apapun bentuk karyanya, penilaian setiap orang akan berbeda-beda. Setiap film akan memberi kesan dan nilai tersendiri sesuai dengan penontonnya, para penonton pun akan memiliki kesimpulan dan pandangan yang berbeda pula. Begitu pun La Luna, film ini tak terlepas dari perdebatan antara ‘setuju’ dan ‘tidak setuju’ dengan pesan dan cara penyampaian La Luna.
Sempat saya temukan kecaman dan kritik dari beberapa penonton tentang La Luna yang dianggap membawa pesan liberal. Mereka juga berkata banyak adegan yang tidak pantas dalam film yang membawa nuansa Islam di dalamnya. Saya rasa bayang-bayang film islami yang iden-tik dengan nuansa pesantren, jauh dari candaan-candaan dewasa dan sarat akan penafsiran ayat-ayat al-Quran secara tersurat adalah beberapa alasan dari beberapa pihak yang kurang menyambut baik La Luna. Walaupun saya tidak menafikan adanya ide yang kurang pantas dalam film ini, saya rasa agaknya terlalu jauh untuk mengatakan bahwa film ini membawa pesan liberal.
Namun, terlepas dari pro dan kontra, Film La Luna saya kira cocok menjadi hiburan saat weekend kala diri sedang mumet dan membutuhkan bahan untuk tertawa. Satire yang brutal nan cerdas, komedi sarat makna dan penggambaran sempurna dari realita masyarakat konservatif, sekiranya ketiga hal tersebutlah yang bisa menggambarkan film La Luna secara keseluruhan. 8/10, rate saya untuk film La Luna.
Ditulis oleh: Kaida Fadilah