Ditulis oleh: Aufa El Hikam
Aku masih ingat ketika dulu Ayah pulang malam dengan bau alkohol yang menyeruak, membuka pintu dengan sentakan kasar, lalu mulai mengobrak-abrik semua perabotan di ruang tamu. Aku belum lupa bagaimana ia meneriakiku dan adikku setiap ia kalah judi online. Terkadang, ia juga suka meneriaki dan menghajar Ibu, ketika giliran Ibu yang pulang larut malam.
Ayah sering bilang, ibu kami adalah perempuan murahan yang tidak tahu malu. Meskipun mungkin memang begitu adanya, kami berusaha buat tidak memihak. Kami tidak mengerti betul siapa benar dan siapa salah. Setiap keributan terjadi, biasanya kami lebih memilih untuk mengunci pintu kamar dan berpura-pura tuli.
Malam itu sedang hujan ketika terakhir kali Ayah dan Ibu bertengkar hebat. Diantara suara piring-piring pecah dan hentakan-hentakan pada dinding, aku mendengar Ibu mengerang kesakitan. Kuintip lubang pintu kamar. Mereka berdua sedang mencekik leher satu sama lain. Dan, pada pertengahan malam, Ibu bergegas meninggalkan kami, menembus hujan menuju rumah pacar barunya. Kepedihan kami sederas hujan malam itu.
…
Sejak bulan lalu, Aku dan adikku sementara mengungsi ke rumah Paman sambil menjaga kedai kopi miliknya. Dalam budaya kami, paman dan bibi memang memiliki kedekatan seperti orang tua kandung. Buat mengisi kekosongan hari-hari gap year setelah lulus dari pesantren, aku terkadang suka berkumpul bersama anak-anak remaja masjid lingkungan ini. Sekadar pelarian biar tidak terus menyendiri di kamar.
Teman-teman komunitas berkisar antara lima belas sampai dua puluh orang, semuanya remaja sebaya. Mereka sering mengobrol tentang banyak hal, merencanakan kegiatan mingguan, atau sekedar tertawa bersama. Namun, sejujurnya aku tidak pernah benar-benar merasa menjadi bagian dari mereka. Barangkali, karena beban masa lalu yang membuatku sulit merasa “ringan” seperti mereka. Begitu juga, kondisi fisikku pun mulai menuntut perhatian lebih.
Setelah didiagnosa mag kronis bulan lalu—yang diperparah dengan kebiasaan begadang dan merokok—aku harus mempertimbangkan ulang banyak sekali hal. Setiap pagi, perutku seperti diperas dari dalam. Aku sadar, harus mencari alternatif lain untuk coping mechanism. Tentunya, yang tidak mencederai kesehatan dan tidak merusak kesempurnaan sebagai muslim.
Awal Desember ini, aku akan berangkat ke Mesir, meneruskan studi ke Universitas Al-Azhar, Kairo dengan beasiswa dari lembaga swasta. Paman pernah bercerita panjang sekali, tentang mimpinya berkuliah di sana, sebelum akhirnya krisis 1998 membunuh dan mengubur mimpinya itu. Paman dan aku tidak jauh berbeda. Sebagaimana banyaknya orang Indonesia, kehimpitan ekonomi adalah bayangan yang sewaktu-waktu menghantui. Semoga Allah membesarkan jiwaku, supaya aku selalu mampu merawat mimpi ini.
Dan dari semua hal yang paling berat untuk kutinggalkan, Amanda adalah yang paling membuatku ragu. Adik perempuanku itu baru empat belas tahun. Tumbuh menyaksikan Ayah dan Ibu yang saling membenci dan melukai, membuat seluruh masa remajanya rapuh. Menjadikan ia seperti tulang patah yang tidak sempurna sembuh.
Aku sadar betul bahwa kepergianku akan menambah satu kursi kosong di rumah itu. Dan aku tak yakin ia akan benar-benar siap untuk itu.
…
Aku mengetuk lalu masuk kamar Amanda yang memang biasanya tidak terkunci. Dia sedang duduk melamun di kursi belajar, dihadapan buku pelajaran yang terbuka.
“Dek, makan bakso ngga?”
“Dibayarin Bang Zahid ya?”
“Iya, santai aja”
Kami pergi pukul tujuh malam, setelah minta izin kepada paman, naik motornya yang tua dan kerangkanya sedikit berkarat. Tempat biasa kami makan terletak tidak jauh dari SD-ku dulu. Aku menitip motor itu ke tukang parkir setelah menguncinya ganda. Lalu kupesankan semangkuk bakso campur untukku, dan semangkuk bakso urat kesukaan Amanda.
Rumah makan itu agak ramai dan pesanan kami tidak juga sampai. Kejenuhan itu membuat kami lebih banyak main handphone. perhatian kami kemudian teralihkan oleh keluarga yang merayakan hari lahir putri mereka. Para Karyawan datang membawa balon berwarna-warni dan bingkisan-bingkisan. Mereka lalu mengitari meja keluarga itu dan menyanyikan lagu ulang tahun. Anak itu kemudian memeluk dan mencium ayah-ibunya.
Momen itu membuatku canggung. Mata Amanda menjadi basah dan memerah. Terlihat warna hitam dibawah matanya, mungkin bekas menangis tadi malam. Barangkali, ia merindukan kebersamaan seperti itu. Atau mungkin, teringat ulang tahunnya yang bahkan dia sendiri lupa kapan terakhir kali dirayakan. Sebelum bulir air matanya jatuh, aku berusaha mengalihkan pikirannya dengan berbasa-basi.
Amanda tampak jenuh dengan pembicaraanku yang memaksakan. Ia memotong,
“Aku pengen punya keluarga seperti itu, Kak” Air matanya jatuh juga.
“Yang seperti apa?”
“Seperti mereka, setia dan mesra”
“Barangkali nanti. Ini cuma perkara waktu. Nanti, ayah dan ibu juga berbaikan” Aku menyeka pipinya.
“Kalau nanti terjadi, dan harus memilih, Abang ikut Ayah atau Ibu?”
“Kenapa harus terjadi? Kenapa harus memilih?”
“Menurut Abang, keluarga itu apa?” Ia balik bertanya.
Aku tidak bisa langsung menjawab. Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang orang anggap sebagai hal filosofis selalu membuat lidahku kelu. Tetapi aku tidak mau terlihat bodoh di depan adikku. Dengan berusaha jujur dengan apa yang belakangan menjadi keyakinanku, aku menjawab.
“Keluarga itu tidak selalu tentang pertalian darah, Man. Siapa saja bisa jadi keluarga. Di saat kita jatuh, dan orang-orang mulai meninggalkan, mereka menetap dan tidak pergi” Aku meneruskan, “Aku tidak tau apakah aku masih cinta Ayah ataupun Ibu. Tapi beruntung, kamu, Paman dan Bibi masih di sini. Kalau kamu pandang dunia dengan mata yang gelap, semuanya juga akan terlihat hitam dan kelam”
Kami jadi bicara panjang sekali. Kami saling menceritakan hal-hal yang sebelumnya saling kami rahasiakan. Aku tidak jadi orang lain saat bicara dengannya. Amanda tampak lebih emosional dari biasanya. Ia juga menceritakan kalau ia sedang suka pada teman kelasnya. Sesekali aku membelokkan arah pembicaraan supaya aku tidak terlalu banyak curhat. Bicara kami sangat panjang sehingga kami jadi orang terakhir di sana.
Kami sampai di rumah sekitar jam sebelas malam. Aku dan Amanda memasukkan motor ke dalam rumah. Sudah itu, aku mengantarnya ke kamarnya yang berantakan. Ia duduk di tepi ranjang sementara aku memunguti barang-barangnya yang berserakan dan menumpuknya diatas meja.
Saat itulah aku melihat luka di dekat pergelangan tangannya. kuambil kotak obat di sudut meja dan membersihkannya pelan-pelan. Ia bilang, lengannya terluka saat memotong sayur. Aku tahu dia membohongiku. Luka itu terlihat begitu rapih dan disengaja. Aku tidak berkata apa-apa sesudah itu. Bukannya aku tak acuh, tetapi karena keyakinanku bahwa ada waktu yang tepat buat setiap pembicaraan. Dan malam itu jelas bukan waktunya.
Aku berdiri beberapa saat di ambang pintu sebelum kembali ke kamarku. Malam sudah larut dan besok pagi aku harus berangkat untuk penerbangan yang panjang. Aku bergegas istirahat untuk mempersiapkan besok pagi.
…
Ini merupakan pengalaman pertamaku naik pesawat. Maskapai yang mediatorku pilih adalah maskapai yang terbilang cukup nyaman. AC-nya super dingin, membuatku beberapa kali menarik selimut tipis yang dibagikan pramugari. Makanan-makanan juga datang beberapa kali sepanjang perjalanan .
Tidak banyak pemandangan yang bisa dinikmati dari jendela di sebelah kursiku. Yang terlihat selama belasan jam perjalanan hanya hamparan awan putih. Tentu, ini sangat menjenuhkan buatku yang lebih terbiasa bepergian dengan kereta. Pemandangannya selalu indah sehingga menambah kemesraan keluargaku waktu masih utuh.
Di sebelahku, adalah perempuan paruh baya berpenampilan serba mencolok. Ia beberapa kali memanggil awak pesawat untuk mengeluhkan semua hal. Entah itu suhu kabin, rasa makanan, atau keterlambatan layanan. Aku tidak suka nada bicaranya yang bernada angkuh dan merendahkan.
Untungnya, tersedia banyak film dan lagu di monitor. Kusetel beberapa dari album Tea for The Tillerman milik Cat Stevens, musisi Inggris yang pada 1977 memeluk Islam. Caranya bernyanyi mirip seperti membaca syair. Aku selalu suka suaranya yang tenang dan tidak tergesa.
From the moment I could talk
I was ordered to listen
Now there’s a way
And I know I have to go away…
…
Tidur duduk membuat pinggangku sakit dan leher terasa kaku. Pesawat mendarat larut malam di Bandara Internasional Kairo. Di area pengambilan bagasi, orang-orang berdiri mengitari ban berjalan dengan wajah lelah, sebagian berbicara cepat dengan bahasa Arab yang dialeknya masih asing buat telingaku.
Setelah koper kami muncul, aku dan beberapa teman berjalan ke luar terminal. Sebuah van tua sudah menunggu di tepi jalur penjemputan. Sopir membantu memasukkan barang tanpa banyak bicara. Kami duduk berderet memenuhi semua kursi, dan terlalu letih untuk bercakap-cakap.
Kami melaju menuju Mutsallas, Hayy Asyir. Distrik yang orang bilang banyak dihuni oleh mahasiswa baru Indonesia. Aku tidak begitu ingat lama perjalanan. Jika tidak salah, jalanan tetap ramai meskipun hampir dini hari, tetapi kendaraannya bergerak lancar. Lampu-lampu toko dua puluh empat jam, papan-papan reklame, dan deretan apartemen di sepanjang jalan menyala terang. Dari balik jendela, aku melihat kota yang selama ini hanya kusaksikan lewat cerita.
Dan entah mengapa, pada saat itulah juga terlintas suatu perasaan yang asing. Suatu kesadaran mendadak bahwa aku benar-benar jauh dari rumah. Kendaraan-kendaraan, gedung-gedung tinggi, pejalan kaki di pavement, semuanya seperti sudah pernah kujumpai. Seingatku, tidak ada yang terasa asing. Hanya saja, di antara mereka, aku merasa tidak ada tempatku. Perjalanan ini juga sebenarnya buah kesadaranku sendiri. Namun, menyaksikan Kairo secara langsung membuatnya terasa lebih nyata daripada yang sebelumnya terbayang.
Kami tiba di rumah sewaan kurang dari setengah jam kemudian. Bangunannya sederhana, berada di deretan rumah bertingkat yang sama sederhananya, dan juga tampak serupa. Lorongnya sempit dan lampunya sedikit remang-remang. Setelah membawa koper ke kamar, aku langsung berbaring dan tak sempat membuka apa pun. Tubuhku terlalu letih dan pikiranku terbuai dalam suatu perasaan yang tidak bisa dirumuskan.
…
Aku berangkat kuliah dengan celana kargo dan jaket tebal, karena udara Desember yang dinginnya menggigit. Pagi itu cerah sekali, sinar mataharinya seperti menyuburkan kembali semangat mudaku. Semilir angin menerpa lembut wajahku, sesekali juga mengacak rambut panjangku. Kuhabiskan perjalanan itu dengan menikmati pemandangan kota, sambil sarapan dengan roti kemasan murah.
Angkutan umum berhenti di seberang Mustasyfa[1] Husein. Aku turun di sana, menyeberang dan hanya perlu berjalan sedikit ke Kampus Al-Azhar, Fakultas Syariah wal Qanun. Hal yang mengejutkanku adalah menyeberang di sini tidak mudah karena pengendara yang tetap melaju kencang, dan terlihat seperti tidak mau mengalah. Bahkan, beberapa kali pernah kudengar, bahwa setiap tahun selalu ada kasus kecelakaan mahasiswa ketika menyebrang jalan.
Sekali lagi, aku terpana melihat lanskap kota yang demikian romantis sekaligus bersahaja. Bukan kemewahan yang membuat mulutku tak berhenti berzikir, melainkan iring-iringan mahasiswa yang berangkat menyambut pagi, aroma roti yang baru selesai dipanggang di pinggir jalan, hingga nyaring klakson mobil yang bersahutan. Semuanya menyatu menciptakan suatu atmosfer yang hidup.
Perhatianku teralihkan pada seorang pengemis kecil yang datang menghampiri. Binar coklat pada matanya, juga rambutnya yang ikal menerbangkan ingatanku pada Amanda kecil. Bocah itu menempelkan tangannya yang menengadah pada kakiku.
“Yaa ‘Ammu sa’idni… Ana makaltesy min imbaarih” [2] Iamengiba. Matanya merah sembab, mungkin sisa menangis.
“Min imbaarih?”[3] Aku memastikan.
“Wallahi”
Tak sampai hati aku menolaknya, kurogoh tas selempang dan kuberikan perempuan kecil itu roti kemasan. Senyumnya merekah begitu saja. Ia memeluk kakiku lantas berlari dan meloncat-loncat kegirangan. Kakinya tak sengaja menendang kepala ibunya yang tidur di pinggir jalan, persis di samping kotoran anjing. Si ibu terbangun dan kemudian anaknya membagi dua roti berpengawet itu.
Aku merasakan perih ketika melihat mereka berdua makan. Manusia manakah yang tidak pedih hatinya, menyaksikan hidup yang amat pelik? Air mataku pecah. Hampir-hampir aku kehilangan diri. Satu-dua pejalan kaki memperhatikan dengan tatapan yang tak mengenakkan. Kusembunyikan kecengenganku dengan menunduk dalam-dalam sambil menyeka air mata. Kutinggalkan si pengemis kecil dan ibunya dengan memberi air minuman.
Kumasuki gerbang kampus dan langsung mencari kelasku di lantai dua. Dosenku masuk dan mengucap salam, sebelum aku sempat duduk. Kuhampiri tangannya, tetapi ia menariknya sebelum sempat tercium olehku. Mungkin ia menyadari wajah-wajah di ruangan itu masih baru. Ia kembali memperkenalkan dirinya. Namanya Duktur[4]Rasyid, Pengajar satu mata kuliah Ilmu Hadits.
Kukeluarkan buku catatan, buku ‘Ilmu Al-Hadits, dan sebuah pulpen. Pak Rasyid mulai menjelaskan tentang pemalsuan hadis dan sebab-sebabnya. Meskipun belum banyak yang bisa kupahami, aku berusaha mencoba memperhatikan kuliah beliau dengan sebaik mungkin.
…
Malam itu aku tertidur cepat, Kuliah hari pertama terasa begitu melelahkan. Entah sudah pukul berapa malam itu ketika aku terbangun dari mimpi buruk. Mimpi itu terasa sangat nyata, Ia menguras habis tenagaku dan menyisakanku kegelisahan yang mendalam. Kurasakan perih yang menusuk di perut dan merambat hingga dada. Penyakitku kambuh.
Kuraih omeprazole dari samping ranjangku. Aku menyobek bungkusnya dan kutelan obat itu tanpa air.
Ponselku berdering pelan. Aku mengucek mataku yang masih buram. Nama Amanda muncul di sana. Kudiamkan panggilan itu sampai dua kali. pada panggilan ketiga aku baru menjawab.
“Belum tidur, Bang?”
“Baru bangun. kenapa nelpon?”
Amanda tidak menjawab, dan hanya menangis tersedu.
“Kenapa, Man? Kenapa nangis? cerita sini, i’m all ears“
Beberapa lama ia hanya melanjutkan tangisnya.
”Paman tadi habis ngomong, Bang” katanya akhirnya.
Aku menunggunya meneruskan.
“Kata Paman, minggu depan Ayah sama Ibu mau pisah”
Aku tidak bisa menjawab. Dan apa jawaban yang bisa diharapkan? Kutatap jendela. Cahaya lampu jalan merambat masuk ke dalam kamarku. Di luar sana, suara kendaraan yang masih melintas di jalanan Hayy Asyir. Dari kejauhan terdengar riuh klakson, lalu hening lagi.
Duniaku runtuh malam itu. Mati-matian kuyakinkan diri bahwa semua akan baik saja. Hal yang selama ini kudoakan agar tidak terjadi akhirnya terjadi juga. Aku merasa begitu kecil dan tidak punya kendali atas sesuatupun. Ya Rabb, dosa apa yang membuat hidup jadi demikian pelik?
Waktu menunjukkan hari berganti, Aku masih menggenggam handphone dan belum melepaskannya dari telinga. Sementara di ujung sana, Anak perempuan itu hanya terdiam. Terdengar tangisnya yang semakin terisak. Tidak ada lagi yang harus ia sampaikan, dan begitupun aku.
[1] Rumah sakit
[2] “Pak, tolong saya… Saya belum makan dari kemarin”
[3] “Dari kemarin?”
[4] Doktor