Ditulis Oleh: Salma Ghaitsa Qathrinnada
“Ali, Mama sudah susah payah ngurus kamu tanpa ayah, kenapa kamu gak pernah mau pulang jenguk mama?” ucapku lewat telepon genggam pada anak sulungku yang hidup sendiri di Jakarta.
“Ma, nanti aku transfer ya untuk bulan ini.” Jawabnya ketus.
“ALI! Mama kan–”
Telepon dimatikan sebelum sempat kulanjutkan perkataanku. Ali anak sulungku selalu saja seperti itu selama tiga tahun belakangan. Aku bingung setiap kali kusuruh dia pulang, hanya mengirimkan uang bulanan tanpa mengabariku.
“Abang begitu lagi, Ma?” tanya Ayu, si bungsu, menghampiriku sambil membawa seduhan teh.
“Yah, seperti biasa, Dek. Tolong bilang ke abangmu supaya dia pulang. Mama bingung sama kelakuannya, makin hari makin berani matiin telepon mama, bahkan tidak diangkat sama sekali.” Aku menarik napas panjang sambil menatap sendu pigura besar di ruang tengah.
“Mungkin abang sibuk, Ma. Nanti kita coba lagi telepon abang ya, Ma…” Ayu mengelus pundakku sambil menghela napas. Aku hanya menatap jendela dengan kosong.
Rumah dengan dua lantai terlalu besar hanya untuk menampung kami berdua, tak tahu sejak kapan rumah ini tak lagi ada suara canda tawa. Mungkin semua ini salahku, semenjak kepergian suami, aku benar-benar terpuruk. Terlalu sering mengabaikan anak-anakku dan rumah ini, hingga semua mulai menampakkan akibatnya.
Terdengar bunyi notifikasi di ponselku. Seperti biasa Ali mentransfer sejumlah uang yang bahkan tak pernah kuminta. Seakan-akan ia membisikkanku untuk jangan menghubunginya lagi. Aku menatap lamat pemberitahuan itu, Tak lama kemudian, pesan darinya masuk, memberi tahu bahwa ia sudah mengirimkan uang. Getaran ponsel itu membuatku tersadar bahwa di hati anakku tak sedikit pun ada keinginan untuk menjengukku. Mataku berkaca-kaca. Hari itu aku merasa menjadi ibu paling jahat di dunia.
Ayu menatapku iba, tangannya ia remas seolah ingin melontarkan pertanyaan berat, “Ma, Mama yakin tidak memberitahu abang tentang itu?” Ia menelan ludah dan masih meremas tangannya dengan gugup. Aku tersenyum.
“Jangan, Nak. Mama yang akan memberitahunya langsung nanti. Dia di sana punya banyak pikiran dan pekerjaan. Kita tunggu saja kepulangannya, ya?” Lirihku. Meski aku tahu mungkin saat waktunya tiba ia baru akan pulang.
“Ma, tapi itu nggak adil, Ma! Emang dia tahu Mama selama ini susah payah bangkit? Emang dia tahu Mama punya penyakit parah yang mungkin bisa pergi kapan saja? Emang Mama kira aku nggak capek, Ma, jalanin ini sendirian?”
Ayu terengah-engah, napasnya tak beraturan, wajahnya memerah, dan tangannya mengepal kuat. Baru kali ini aku melihatnya meluapkan emosinya. Mungkin selama ini ia menahan diri demi kesehatanku dan kedamaian rumah ini.
Aku tahu dia lelah sekali merawatku sendirian. Bahkan sering kali ia menunda keinginannya demi merawatku, yang kini memakai kursi roda. Kakiku sudah lumpuh setahun belakangan, dan banyak menghambat keinginannya.
Aku tersenyum perih, mata berkaca-kaca, menatap sosok yang selama ini banyak berkorban untukku. Padahal seharusnya aku tak boleh menjadi penghalang bagi anak-anakku. Aku sadar, aku sudah banyak menyakiti mereka.
“Dek…” Aku mengelus tangannya pelan. “Maafin Mama ya, sudah banyak buat kamu dan Abang menderita. Mama tahu, saat-saat kehilangan Papa dan depresi adalah waktu terberat buat kamu dan Abang…”
Tak kusadari air mataku menetes. Hatiku tergores lagi, menyadari bahwa dua permata hatiku terluka karena lukaku yang lama tak kusembuhkan.
Tangisan Ayu pecah. Ia terisak hebat, menyeka air matanya dengan sikut. Ia tampak seperti anak kecil yang mengharapkan kasih sayang. Hatiku terasa sakit membayangkan betapa kuat ia menahan dirinya selama ini.
“Maafkan adek, Ma… Adek tidak bermaksud begitu…” ucapnya sambil terus terisak. Aku merengkuh tubuhnya yang kurus ke dalam pelukanku. Malam itu menjadi saksi bisu pintu maaf yang mulai terbuka.
***
Hari demi hari berlalu, dan kesehatanku tentu saja semakin memburuk, mulai menggerogoti tubuhku yang lemah. Bersama Ayu, hari itu aku berangkat ke rumah sakit dengan semangat. Seperti biasanya, kami datang sesuai jadwal yang diberikan dokter dua minggu lalu. Dengan tenang, Ayu mendorong kursi rodaku masuk ke dalam ruangan dokter untuk menerima hasil pemeriksaan.
“Bagaimana, Dok? Keadaan Mama?” Ia menggaruk tangannya yang tidak gatal, wajahnya datar. Jelas terlihat ia gugup. Aku sudah hafal gerak-geriknya. Tak jauh berbeda, jantungku pun ikut berdebar. Aku tahu betul tubuhku sedang dalam keadaan yang tidak baik.
“Sepertinya Ibu harus dirawat inap di sini, karena tumor di lambung Ibu semakin memburuk. Mohon kesediaannya untuk menandatangani persetujuan rawat inap ini,” ucap dokter sambil menatap mata kami berdua secara bergantian, kemudian menyerahkan dokumen itu kepada Ayu.
Aku memperhatikan wajah mungilnya dengan seksama, lalu mengangguk. Ayu menerima dokumen itu dengan tangan gemetar, air mata hampir tak tertahan lagi.
Dengan tarikan napas panjang, aku menyerahkan semua ini kepada Allah. Baik dan buruknya, biarlah Dia yang mengatur. Jika diberi pilihan, aku tak ingin meninggalkan anak-anak. Aku terlalu banyak membebani mereka di usia yang belum pantas untuk menanggung beban seberat ini.
“Dek, jangan beri tahu Abangmu dulu, ya?” Aku memegang bahu Ayu yang duduk di pinggir kasurku, menatapnya dengan senyum manis sekuat yang bisa kuberikan. Mata Ayu mengernyit, menandakan kebingungan.
“Kenapa, Ma? Abang juga harus tahu,” bantahnya.
Dek, nanti saja ya kasih tahu Abang. Mungkin dia sedang sibuk di Jakarta,” jawabku dengan tenang, sambil mengelus pundaknya perlahan. Ayu menarik napas dalam, mulai mendengarkan perkataanku dengan tenang.
“Oke, Ma…” ia menunduk, menghela napas perlahan, matanya mulai berkaca-kaca saat menatapku.
“Mama nggak papa, Dek…” Aku tersenyum sambil mengelus pelan rambutnya.
Sebulan berlalu, kondisiku semakin memburuk. Selang-selang infus sudah terpasang di tubuhku, dan nafasku mulai terengah-engah dengan bantuan oksigen. Langit-langit rumah sakit, yang selama ini menjadi pemandanganku, mulai redup cahayanya.
Sayup-sayup kudengar suara telepon Ayu; sepertinya ia kembali menelepon Ali untuk kesekian kalinya. Sudah dua minggu sejak Ayu memberitahunya tentang penyakitku, namun Ali tetap menolak pulang. Aku tak menyalahkannya. Sungguh, aku akan menjadi orang tua yang buruk jika tetap menyalahkannya saat ini.
Dulu, saat duka melanda, dialah yang menjadi pelampiasan emosiku, orang pertama yang kusuruh menjadi sandaran hidupku. Sungguh kejamnya diriku.
“Bang! Tahu nggak sih? Mama Cuma punya waktu sebentar lagi! Abang benar-benar nggak mau lihat Mama untuk terakhir kalinya?!”
Amarah Ayu memuncak. Aku tahu pasti apa jawaban Ali sampai Ayu berteriak seperti itu. Sudah pasti ia menolak—mungkin luka yang kubuat terlalu dalam untuknya, sehingga untuk melihatku terakhir kalinya pun ia enggan.
Malam di rumah sakit, bau antiseptik yang tajam bercampur aroma melati dari minyak kayu putih yang Ayu oleskan di pelipisku. Lampu lorong berkedip-kedip, membuat bayangan jeruji menari di atas selimut. Dari luar jendela, klakson angkot dan azan Isya bersahutan; di dalam, mesin oksigen mendesis seperti berbisik.
Aku menggenggam ujung selimut kasar, merasakan rasa logam di mulutku, sisa obat kemoterapi. Ayu menyeka remah-remah roti di nampan, suara sendok berdenting di baja, lalu menahan napas saat monitor menampilkan angka yang menurun.
Pandanganku meredup. Suara-suara yang sayup-sayup kudengar perlahan menghilang. Apakah ini sudah waktuku untuk pergi? Pandanganku gelap, napasku terhenti. Bunyi panjang patient monitor, larian dokter dan suster ke arahku, kejutan defibrillator untuk detak jantung yang tak kembali—dan yang tersisa hanyalah teriakan anak bungsuku.
“Ma… Maaa… jangan tinggalin Adek, Ma! Mama jahat! Kenapa Mama tinggalkan Adek gitu aja?! Terus Adek sama Abang gimana?!”
Ia mencengkram kuat kain putih yang menutupi tubuh orang yang paling ia sayangi. Tangisnya pecah hebat, teriakan sendunya menandakan rasa kehilangan yang amat dalam. Semua orang di ruangan itu menatap iba pada anak 16 tahun yang ditinggal pergi oleh satu-satunya sandaran hidupnya.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia menekan tombol telepon.
“Bang… Mama sudah pergi…” Suaranya berat dan parau, berusaha menyampaikan kenyataan yang tak bisa dihindari.
***
Setahun telah berlalu sejak kepergian Mama. Hari ini, Ayu dipanggil ke rumah sakit untuk bertemu dokter pribadi Mama. Ia datang ditemani sosok lelaki itu, Ali.
“Ada apa, Dok? Kenapa memanggil kami ke sini?” tanya Ali dengan suara tegas.
“Nak Ali, ya? Dan ini Ayu?” Dokter menunjuk kami satu per satu sambil tersenyum. Ali mengernyit, bingung. Ia tak pernah sekalipun menjenguk Mama, lalu bagaimana mungkin dokter tahu namanya?
Dokter melangkah mendekat dan mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya.
Ini ditinggalkan Bu Asih untuk kalian berdua. Tolong dijaga dan dipergunakan dengan baik.” Suaranya mulai merendah saat ia meraih tangan Ali, lalu meletakkan sebuah kotak antik dari kayu seukuran buku tulis. Di permukaannya terdapat ukiran bunga dan nama Ali serta Ayu.
Asih—nama asli Mama—sudah lama tak terdengar, dan mendengar nama itu membuat hati Ali bergetar. Ia menatap dokter dengan bingung, matanya seolah meminta penjelasan atas apa yang sedang terjadi.
“Bu Asih meminta saya menyerahkan ini setahun setelah kepergiannya. Selama ia dirawat di rumah sakit, banyak cerita tentang hidupnya dan tentang kalian, anak-anaknya. Makanya saya bisa mengenal kalian dengan baik.”
Dokter menatap kotak itu sejenak, lalu berlalu meninggalkan kami.
Mereka berdua terdiam lama sebelum akhirnya menatap satu sama lain. Suasana menjadi sendu, teringat kejadian beberapa tahun lalu, saat Ali memberi hadiah ulang tahun untuk Mama—10 tahun yang lalu, ketika Papa masih ada. Hadiah itu persis seperti kotak ini, hanya bedanya, tidak ada ukiran nama Ali dan Ayu di sana.
Ali mulai terbawa suasana. Ruangan dokter terasa hampa, napasnya tidak beraturan mengikuti detak jantung yang kacau. Ia mengusap kotak itu perlahan, merasakan setiap detail ukiran yang dulu dibuat dengan pisau ukir kecilnya. Semakin ia rasakan, semakin ia tenggelam dalam kenangan, seolah kembali ke 10 tahun yang lalu.
“Bang, nanti kamu mau kasih kado apa ke Mama?” Papa tersenyum simpul, manis, pada anaknya yang berumur 10 tahun.
Anak itu tersenyum girang, gigi ompongnya terlihat, dan matanya berbinar-binar seakan ingin melompat keluar karena kegembiraannya.
“Abang mau buat kotak cantik yang bakal Mama simpan terus, Pa!” Antusiasme Ali tak sabar untuk membuat kado istimewa yang ia rencanakan.
“Bagus, Bang. Papa ada satu pesan buat kamu, mau dengar?”
Ali mengangguk kuat, masih dengan senyuman girangnya.
“Nanti, kalau sudah jadi orang besar, kamu harus bisa jadi Superman ya buat Mama dan Ayu,” ucap Papa sambil menepuk bahu Ali.
Tanpa pikir panjang, anak itu mengangguk lagi, kali ini dengan keteguhan yang ia miliki. Namun sayang, mungkin ia tak bisa menepati kata-katanya saat itu.
Ali mulai membuka kotak kayu itu, engselnya berderik seperti suara jendela Mama saat angin masuk. Ayu mendekat perlahan, mengamati isi kotak. Di dalamnya tersimpan sebuah flashdisk, buku tabungan, dan foto usang kita berempat, rapi seolah menunggu waktu yang lama untuk dibuka.
Ayu mengambil flashdisk dengan hati-hati dan menyambungkannya ke laptopnya. Mereka berdua duduk, menatap satu folder yang muncul di layar. Benar saja, isinya hanya satu folder, bertuliskan “ANAKKU TERSAYANG.”
Ali memberanikan diri membukanya, sementara Ayu, yang dari tadi hanya diam, kini tampak gugup, menggaruk-garuk tangannya yang tak gatal.
Di dalam video berdurasi tiga menit, terlihat sosok Mama dengan balutan infus. Ayu mengklik perlahan agar video mulai berjalan. Ali menelan ludah kasar—baru kali ini ia melihat Mama seterfragil itu.
Dalam ingatannya, sosok Mama adalah sosok yang tegas, kadang terasa kejam, yang jarang memikirkan perasaannya sendiri, bahkan egois terhadap anak-anaknya. Melihatnya lemah seperti itu membuat Ali merasa bersalah, seolah semua kemarahan dan penilaian masa lalu terlalu jahat baginya.
“Hai anak-anakku, gimana kabar kalian, Nak?”
Pembukaan sederhana itu membuat air mata Ayu mengalir deras. Ali tetap dengan muka datar, menatap raut wajah Mama di layar.
“Maaf, Mama gak bisa nemenin kalian lama, ya, Nak… uhuk, uhuk… Mama juga minta maaf atas kesalahan masa lalu. Mama tahu itu sulit dimaafkan, terutama abang. Mama gak sadar sikap Mama saat itu membuat abang terluka sampai nggak mau melihat wajah Mama, bahkan terakhir kali. Mama gak bakal maksa abang buat memaafkan.
Tapi Mama minta satu hal, boleh, Bang? Lakukan hal-hal yang bikin abang bisa menerima semua luka yang dalam itu, biar nanti nggak merusak masa depan abang. Mama mau abang bahagia lagi, seperti dulu, saat abang senang dapat mobil-mobilan yang abang suka.
Makasih ya, Bang, sudah menjadi tulang punggung keluarga walau masih kecil, dan juga sudah jadi anak yang baik.”
Ucapan Mama panjang lebar, diselingi tarikan napas dan batuk yang hebat. Ali memalingkan wajahnya, berusaha menutupi kesedihannya di hadapan Mama yang hanya bisa ia lihat di layar.
“Untuk Adek, maafin Mama ya… sudah banyak merepotkan kamu. Mama terlalu egois membiarkan kamu merawat Mama sampai lupa sekolah, sampai satu per satu harus dikorbankan demi kesehatan Mama. Makasih sudah merawat Mama selama ini… uhuk… uhukk…”
Suaranya tersendat, wajahnya memerah karena kesakitan setiap kali berbicara. Ayu menangis semakin deras, sesenggukan hebat, karena sosok yang selama ini ia temani sudah tak ada lagi.
Abang, itu di tabungan adalah semua uang yang selalu abang kirim ke Mama setiap bulan. Mama Cuma pakai sedikit untuk keperluan rumah saja. Makasih ya, Bang… tapi Mama mau uang yang banyak itu abang pakai buat abang dan Adek saja. Berbahagialah, anak-anakku tersayang. Maaf ya, Mama belum bisa jadi Mama yang baik buat kalian.”
Ia menutup ucapan dengan mata berkaca-kaca. Hati Ali tersentak saat membuka buku tabungan itu—benar-benar sebagian besar uang yang selama ini ia berikan ke Mama masih tersimpan rapi di sana. Dahulu, ia sempat berpikir Mama mengambilnya demi kebutuhan hidupnya sendiri.
Ali menelan ludah yang sulit masuk, tenggorokannya kering, pelupuk matanya basah. Perlahan, hatinya mulai sembuh, menyadari pengorbanan dan kasih sayang Mama selama ini.
Hari itu menjadi titik balik bagi Ali, sekaligus membawa ketenangan bagi Ayu. Mereka saling menatap, lalu akhirnya berpelukan dengan tangis yang sama. Kini mereka sama-sama tahu bahwa luka yang Mama beri adalah satu-satunya cara Mama bertahan hidup dan menghidupi mereka—karena ini juga adalah pengalaman pertama Mama menjadi orang tua.
Mereka melapangkan hati dan berdoa untuk Mama. Kini, hanya mereka berdua yang harus saling menjaga, dengan cinta yang sama seperti cinta Mama.