Pelukan Terakhir

Oleh: Muhammad Haikal Kamal

“Ayah, bisakah aku menjadi seekor kupu-kupu?”

Sang ayah tertawa pelan mendengar pertanyaan putri kecilnya yang tengah tertidur dengan kepala bersandar di lengannya. Gadis itu berparas sangat cantik, persis seperti sang ibu yang juga tertidur di sebelahnya. Sayangnya, keluarga kecil itu tinggal di sebuah kota yang terjajah. Tak ada malam yang benar-benar aman di sana. Kapan saja, serangan dari penjajah bisa menghancurkan rumah kumuh kecil mereka.

“Kenapa kau ingin jadi kupu-kupu? Tubuhmu nanti jadi kecil sekali,” tanya sang ayah sambil mencubit pipi putrinya dengan lembut.

“Karena aku ingin bisa terbang, hinggap di bunga-bunga, dan punya sayap yang sangat cantik,” jawab sang anak dengan mata berbinar.

Sang ayah tersenyum, menatap istrinya sekilas. Mereka tahu, putri kecil mereka sangat menyukai kupu-kupu. Walau, di saat yang sama, ia takut dengan ulat.

“Kalau begitu, kau harus jadi ulat dulu, lalu berubah jadi kepompong. Baru bisa jadi kupu-kupu,” timpal sang ibu yang ikut tersenyum.

“Apa? Aku harus jadi ulat? Aku nggak mau!” sahut si kecil sambil manyun, bibir bawahnya mencuat lucu.

Kedua orangtuanya tertawa melihat tingkah sang buah hati. Percakapan semacam ini bukan hal baru. Putri mereka memang penuh imajinasi. Pernah ia ingin menjadi ikan, ayam, bahkan koran, karena katanya, ia ingin menyampaikan informasi kepada semua orang.

“Kau boleh jadi apa pun yang kau mau, Nak. Asal jangan pergi dari kami, ya,” ucap sang ayah lembut.

“Baik, Ayah, Ibu. Aku sayang kalian,” jawab gadis kecil itu sambil dipeluk oleh kedua orangtuanya.

Keluarga kecil itu sudah menempuh hidup yang berat. Meski tinggal di rumah reyot dengan alas kasur tua, tak pernah sekalipun mereka tidur tanpa berpelukan. Kasih sayang mereka begitu hangat, meski dunia di luar begitu dingin dan kejam.

Namun malam itu, dalam keheningan yang tak bersuara, sebuah senjata telah disiapkan untuk menghancurkan kota mereka.

Keesokan harinya, keluarga itu tak lagi merasakan kesakitan. Mereka sempurna bahagia. Bebas.

Ditulis Oleh: Muhammad Haikal Kamal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *