Ditulis oleh: Ahmad Fakhry
Seperti yang diketahui, bahwa kehidupan dunia modern seringkali dibangun di atas budaya konsumsi. Tidak terlepas dari gempuran media sosial, iklan, dan lifestyle yang terus membentuk cara pandang manusia. Seseorang kerap terjebak dalam lingkaran keinginan yang keliru, di mana keinginan perlahan dianggap sebagai kebutuhan yang wajib dipenuhi. Fenomena ini muncul lantaran banyak produk saat ini menggunakan pendekatan psikoanalisis sebagai strategi pemasaran, mempelajari sisi terdalam manusia untuk kemudian memanfaatkannya.
Sebagaimana dikutip dalam buku The West and The World karya Kevin Reilly, kekuatan public relations dan iklan mampu mengelabui pikiran manusia dengan berpura-pura memperluas pilihan individu, padahal sejatinya sedang mengarahkan dan membatasi. Manusia diberi ilusi kebebasan, seakan-akan ia memilih dengan sadar, padahal preferensinya telah dibentuk sebelumnya.
Contoh yang sering disebut adalah strategi yang dilakukan oleh Edward Bernays saat membantu perusahaan rokok Amerika. Dengan memanfaatkan simbol “obor kebebasan”, ia mendorong perempuan untuk merokok dalam pawai Paskah tahun 1929 di New York. Aksi itu bukan sekadar kampanye produk, tetapi rekayasa makna, mengubah rokok dari sesuatu yang tabu menjadi simbol emansipasi. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa opini publik dapat diarahkan, bahkan adat yang mengakar pun dapat digeser melalui media dan propaganda yang terstruktur.
Dari sini tampak bahwa gaya hidup konsumtif bukan sekadar pilihan individu, tetapi hasil konstruksi panjang yang membentuk orientasi hidup manusia. Sejak kecil, seseorang perlahan dijauhkan dari kesederhanaan dan dibiasakan menjadi bagian dari sistem pasar. Nilai diri sering kali diukur dari apa yang dimiliki, bukan dari kualitas jiwa. Akibatnya, manusia terus merasa kurang, terus terdorong membeli, dan terus mengejar validasi yang tak pernah benar-benar memuaskan.
Di tengah arus besar inilah Ramadhan hadir membawa koreksi mendasar. Jika budaya modern mendorong manusia untuk terus mengonsumsi, maka Ramadhan melatih manusia untuk menahan. Jika iklan membisikkan bahwa kebahagiaan terletak pada kepemilikan, maka puasa mengajarkan bahwa kebahagiaan lahir dari pengendalian diri. Selama sebulan penuh, seorang muslim menahan makan, minum, dan berbagai dorongan biologis. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena sadar dan taat.
Puasa mengembalikan manusia pada definisi kebutuhan yang sebenarnya. Ia melatih untuk membedakan antara yang perlu dan yang sekadar ingin. Ketika seseorang mampu menahan sesuatu yang halal/dibolehkan di siang hari, maka ia sedang dididik untuk lebih mampu menahan hal-hal yang berlebihan di luar Ramadhan. Inilah faedah besar Ramadhan, membebaskan manusia dari perbudakan keinginan dan ilusi pasar.
Dengan demikian, Ramadhan bukan sekadar ritual spiritual tahunan, melainkan madrasah pembentukan karakter. Ia mengajarkan kecukupan di tengah budaya berlebih-lebihan, kesadaran di tengah distraksi, dan makna di tengah gemerlap semu. Jika dunia modern menawarkan kebebasan semu melalui konsumsi, maka Ramadhan menghadirkan kebebasan hakiki. Kebebasan dari belenggu hawa nafsu dan sistem yang membentuknya tanpa disadari.