Ditulis oleh: Asyraf Al-Muwahid
Pernah nggak sih, kita sebelum tidur di malam hari, menatap langit-langit kamar, dan terus bertanya-tanya: โKenapa hidup orang lain kelihatan begitu mulus, sementara kita harus berjuang bagai ikan yang terjebak di gurun yang tandus ?โ
Kita belajar lebih lama, bekerja lebih keras, menahan kantuk lebih sering. Namun, hasilnya seringkali biasa saja. Sementara itu, banyak di media sosial, kita melihat seseorang yang tampaknya “santai”, tapi bisa mencapai lompatan karier atau hidup yang luar biasa.
Dalam nuansa Islam, ada sebuah kosa kata bahasa Arab yang disebut sebagai Ijtihad (ุงุฌุชูุงุฏ)โyang berarti berusaha, bersungguh-sungguh, dan berjuang hingga titik optimal. Namun, mengapa kata ijtihad ini, bagi setiap orang menghasilkan beban yang berbeda? Mengapa usaha kita kadang terasa jauh lebih susah.
Terkadang, Kesalahan terbesar kita adalahย membandingkan diri sendiri dengan hanya melihat puncak gunung es kehidupan orang lain. Pada saat yang sama, kita justru sedang terjebak di dasar laut yang kita ciptakan sendiri.
Apa yang kita sebut sebagai keberuntungan orang lain sering kali merupakan hasil dari usaha yang tidak mereka pamerkan. Kita tidak pernah tahu berapa malam yang mereka habiskan dalam tangis, berapa kali mereka mengalami penolakan, atau trauma apa yang sedang mereka hadapi.
Setiap orang memiliki starting line (garis awal) yang berbeda-beda, baik dari segi privilege (keistimewaan), latar belakang keluarga, hingga mentalitas. Membandingkan usaha kita dengan orang lain secara mentah-mentah adalah tindakan yang tidak adil bagi diri sendiri.
Kita sering kali keliru mengartikan kesuksesan hanya sebatas materi atau pencapaian yang tampak. Padahal, esensi dari ijtihad adalah perubahan karakter internal kita selama berjuang.
Secara spiritual dan filosofis, Allah Azza Wa Jalla tidak mungkin menilai seberapa kaya atau seberapa populer kita di akhir cerita. Melainkan, seberapa gigih kita berusaha di jalan yang benar. Ketika suatu usaha terasa lebih susah, nilai dari setiap tetes keringat kita justru sedang dilipatgandakan. Ibaratkan, kita sedang membangun cerita hidup yang kaya, bukan sekadar cerita dengan alur yang mudah.
Seperti dalam hadis yang di riwayatkan oleh Imam Muslim, supaya kita terhindar dari rasa iri saat melihat kesuksesan materi atau duniawi orang lain, Rasulullah SAW Bersabda :
ุงููุธูุฑููุง ุฅูููู ู ููู ุฃูุณููููู ู ูููููู ู ููููุง ุชูููุธูุฑููุง ุฅูููู ู ููู ูููู ููููููููู ู ูููููู ุฃูุฌูุฏูุฑู ุฃููู ููุง ุชูุฒูุฏูุฑููุง ููุนูู ูุฉู ุงูููููู
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu (dalam urusan dunia) dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu. Hal itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepadamu.” (HR. Muslim).
Setiap orang memiliki perjalanan hidup, kemampuan, dan titik awal yang berbeda, sehingga tidak tepat membandingkan perjuangan diri sendiri dengan keberhasilan orang lain. Banyak kesuksesan yang terlihat sebenarnya merupakan hasil dari kerja keras dan pengorbanan yang tidak tampak.
Dalam Islam, ijtihad bukan hanya berarti berusaha keras untuk mencapai hasil, tetapi juga proses membentuk karakter, kesabaran, dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.
Allah menilai kesungguhan usaha, bukan semata hasil, kekayaan, atau popularitas. Karena itu, fokuslah pada ikhtiar sendiri, syukuri nikmat yang dimiliki, dan hindari iri dengan melihat orang yang keadaannya berada di bawah dalam urusan dunia.