Oleh: Faiz Aslam Efendy
Tak terasa kita telah memasuki fase pertengahan ramadhan, semangat tak terasa lagi ramai seperti di awal. Tarawih mulai terasa lelah, ayat-ayat Al-Quran yang dibaca tak lagi sebanyak di malam pembuka. Namun, justru di sanalah ujian keikhlasan dimulai. Hingga akhirnya, ketika malam-malam terakhir datang, hati tersentak – Ramadhan hampir pergi, sementara diri belum sepenuhnya pulang. Yang tersisa adalah keheningan – hening yang menguji, apakah langkah kita masih berjalan dengan cinta, atau sekedar terbawa suasana.
Di saat itulah Ramadhan mulai menampakkan wajah aslinya. Ia bukan hanya bulan yang dirayakan, tetapi perjalanan batin yang menuntut akan keteguhan. Ia menyaring manusia dari gemuruhnya, memisahkan antara yang ingin dipuji dan yang benar-benar ingin kembali.
Hari-hari berlalu tanpa terasa. Matahari terbit dan tenggelam seperti biasa, tetapi di dalam dada ada sesuatu yang perlahan berubah. Ada kesadaran yang tumbuh diam-diam; separuh kesempatan telah pergi dan separuh yang tersisa tak akan menunggu.
Hingga akhirnya datanglah sepuluh malam terakhir, malam-malam yang diisyaratkan lebih baik dari seribu bulan. Allah berfirman :
لَيۡلَةُ الۡقَدۡرِ ۙ خَيۡرٌ مِّنۡ اَلۡفِ شَهۡرٍ
Dalam Tafsir Imam Jalaludin Al-Mahali dan Jalaludin As-Suyuthi disebutkan bahwa maknanya adalah ibadah di malam Laylatul-qadr itu lebih utama daripada ibadah selama seribu bulan. Betapa luas rahmat Allah Ta’ala yang ditawarkan, dan betapa singkat waktu yang diberikan untuk meraihnya.
Maka pada malam-malam itu, manusia kembali bersungguh-sungguh. Bukan karena panjangnya malam, tetapi karena takut kehilangan kesempatan yang tak tentu terulang.
Dan pada akhirnya, seluruh perjalan panjang itu bermuara pada satu titik paling rendah sekaligus paling tinggi, yaitu sujud.
وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
Dijelaskan bahwa perintah itu bermakna: “bersujudlah kepada Allah Ta’ala dan dengan sujud itu engkau menjadi dekat kepada-Nya.
Seolah-olah kedekatan yang dicari selama sebulan penuh, diringkas dalam satu gerakan yang sederhana – ketika dahi menyentuh bumi.
Di malam terakhir ramadhan, sujud itu terasa berbeda. Ia bukan lagi sekedar rukun salat, akan tetapi ia menjadi pengakuan yang tak mampu diucapkan dengan kata-kata.
Ketika dahi menempel pada tanah, ada kesadaran bahwa manusia berasal dari tanah dan kembali kepada-Nya. Dan di antara dua tanah itu hanya rahmat Allah Ta’ala yang mampu menyelamatkannya.
Rasa manis itu hadir bukan karena kita merasa telah banyak beramal, tetapi karena kita merasa sangat membutuhkan ampunan. Manis karena berharap diterima, manis karena takut ditolak, manis karena dalam kerendahan itulah seorang hamba benar-benar dekat.