SYEKH AHMAD AL-DAMANHURI

Beliau bernama Syihābuddīn Abul ‘Abbās Ahmad bin Abdul Mun‘im bin Yūsuf bin Shiyām al Damanhūrī al Madzāhibī al Azharī. Adapun riwayat yang mengatakan bahwa kakeknya adalah Shiyam dengan menafikan Yusuf tidaklah benar.

Beliau lahir di daerah yang bernama Damanhur al Gharbiyyah pada masa itu, dikarenakan terletak di bagian barat delta Nil, atau Damanhur al Wahsyi yang di kemudian hari berubah menjadi kota Damanhur, ibu kota provinsi al Buhairah, Mesir.

Beliau lahir pada tahun 1101 H (1689/1690 M). Perbedaan tahun Masehi iniditemukan di dalam beberapa kitab kontemporer yang berkisah tentangnya. Semua riwayat di atas benar, karena dalam satu tahun Hijriah terjadi pergantian tahun Masehi.

Masa Pertumbuhan

Masa kecil Ahmad al-Damanhuri dilaluinya dalam keadaan yatim dan fakir. Karena keadaan itu, beliau akhirnya pergi merantau ke kota Kairo untuk belajar di tiang-tiang Masjid al Azhar. Hanya itu satu-satunya jalan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Apalagi, al Azhar sangat memperhatikan para santrinya.

Dalam fase perkembangannya, beliau memanfaatkan waktu tersebut dengan sebaik baiknya serta harus bisa mandiri agar tidak menyia nyiakan kesempatan yang ada.

Beliau sangat tekun dalam menuntut ilmu. Sebelum mencapai usia 10 tahun, beliau sudah menyelesaikan hafalan al Qur’an dan mempelajari semua fann keilmuan, baik duniawi maupun ukhrawi. Saking tekunnya, beliau mendapatkan ijazah untuk berfatwa dan mengajar dalam fikih empat madzhab–Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali– dari para guru besar al Azhar. Padahal, kala itu, para ulama di zamannya rata-rata hanya berpegang satu madzhab. Namun, beliau sendiri memegang empat madzhab sekaligus. Oleh sebab itu, beliau dikenal dengan sebutan al Madzāhibī (pakar empat madzhab).

Sifat dan Karisma

Syekh Ahmad al Damanhuri memiliki karisma yang luar biasa. Beliau sangat dihormati oleh semua kalangan, baik oleh masyarakat awam maupun pemerintahan.

Tak jarang pengajian beliau dihadiri oleh para pembesar negara, seperti Ali Bik al Kabir. Ia sering menghadiri kajiannya, menganggap beliau sebagai penasihatnya dalam urusan negara, begitu pula pembesar lainnya. Beliau juga sering diberi hadiah oleh mereka, bahkan sebelum beliau menjabat sebagai Syekhul Azhar. Ini adalah bukti karisma para ulama. Beliau disegani bukan karena jabatan, bahkan sudah disegani sebelum menenteng gelar apa pun. Selain terkenal akan kealimannya, beliau juga dikenal dengan lisannya yang fasih, selalu menebar kebaikan, memiliki wibawa yang tinggi, dan, yang terpenting, pribadi yang berani, sehingga disegani para pembesar negara kala itu.

Ketika  Syekh Ahmad al Damanhuri pergi haji pada tahun 1177 H bersama rombongan dari Mesir, pimpinan Makkah kala itu–sebelum adanya Kerajaan Arab Saudi– beserta para ulamanya datang berbondong-bondong menyambut kedatangan beliau untuk sowan. Ketika pulang haji, beliau kembali disambut hangat oleh masyarakat Mesir dengan senandung-senandung syair.

Beliau juga terkenal dengan kedermawanannya yang luar biasa, terutama dalam bersedekah. Tak jarang hartanya dibagi-bagikan tanpa memperhitungkan dan memikirkan apa yang beliau punya di kemudian hari.

Karangan

“Kitab Hilyatul Lubbil Mashun Syarh ala Jauharul Maknun” Karangan Imam Ad-Damanhuri

Beliau mengarang kitab di semua fann ilmu. Di antara karangannya yang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia ialah Īdhāh al-Mubham li Ma‘ānī al-Sullam (mantik) dan Hilyah al Lubb al-Mashūn Syarh al- Jauhar al Maknūn (balaghah). Hingga kini, dua kitab tersebut masih dikaji dan dijadikan kurikulum di berbagai pondok pesantren di seluruh Indonesia. Bahkan, saking masyhurnya, tak jarang kita temukan terjemahannya dalam bahasa Indonesia di banyak toko buku.

Wafat

Sepuluh tahun berlalu semenjak Syekh Ahmad al Damanhuri menjadi pimpinan tertinggi al Azhar. Beliau menghembuskan nafas terakhir di rumahnya yang berada di Bulaq–daerah tepian sungai Nil–pada hari Ahad, 10 Rajab 1192 H/3 Agustus 1778 M di usia 91 tahun.

Adapun riwayat yang mengatakan bahwa beliau wafat pada tahun 1190 H/1776 M dengan alasan bahwa kursi kepemimpinan al Azhar kosong kurang lebih dua tahun adalah riwayat yang lemah.

Riwayat pertama diperkuat dengan apa yang ditulis oleh keturunannya pada pintu makam beliau mengenai waktu lahir dan wafatnya. Hal ini juga diperkuat dengan sumber yang ditulis oleh al Jabarti dalam kitabnya. Terlebih, al Jabarti adalah ulama yang sezaman dengan Syekh Ahmad al Damanhuri.

Beliau disalatkan di Masjid al Azhar, lalu dimakamkan di tengah Qarafah Mujawirin, berdekatan dengan makam Syekh Syamsuddin al Manshuri (Mufti Hanafiyyah Mesir), Syekh Abdul Wahid Yahya (René Guénon), dan Syekhul Azhar Muhammad al Kharasyi. Anak-anak cucu keturunan beliau juga turut dimakamkan di sekitarnya sampai hari ini.

Sumber: 44 Imam Akbar Kamus Biografi Ulama al‑Azhar, oleh Munawar Ahmad, Muhid Rahman, Amirul Mukninin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *