Sebelum kita mengenal Grand Syekh Al-Azhar hendaknya kita mengetahui terlebih dahulu “apa itu Al-Azhar?”
Al-Azhar Asy-Syarif merupakan salah satu warisan Dinasti Fatimiyah yang mulanya adalah sebuah tempat pusat pembelajaran keilmuan islam yang didirikan tanggal 24 juni tahun 972 H. Awal mulanya tempat ini hanyalah sebuah masjid yang dijadikan sarana pendidikan, kemudian perkembangan tiap tahunnya membuat Al-Azhar menjadi sebuah universitas yang mempunyai kurikulum pembelajarannya.
Al-Azhar sendiri merupakan universitas tertua kedua setelah Al-Qarawiyyin, terletak di kota Fes, Maroko. Al-Azhar mempunyai sebuah jabatan atau gelar tertinggi yang bertanggung jawab terhadap urusan keagamaan islam serta eksistensi Al-Azhar itu sendiri, sekaligus memegang peranan penting dalam pemikiran islam dan sunni.
Syekh Muhammad al-Kharasyi adalah orang pertama yang mendapat gelar Syekh al-Azhar pada tahun 1679 M yang kemudian digantikan oleh Syekh Ibrahim al-Barmawi. Gelar penting tersebut terus berganti beriringan dengan waktu yang terus melaju, kurang lebih ada 48 syekh yang telah mendapatkan gelar penting tersebut diantaranya adalah :
Syekh Muhammad Syaltut (1958 – 1963 м)
Syekh Hasan Ma’mun (1963 M – 1969 м)
Syekh Muhammad al-Fahham (1969 M-1973 м)
Syekh Abdul Halim Mahmud (1973 M – 1978 M)
Syekh Muhammad Abdurrahman Bishar (1979 M – 1982 м)
Syekh Jad al-Haq Ali (1982 M – 1996 м)
Syekh Muhammad Thantawy (1996 м-2010 м)
hingga sampai pada Imam besar kita saat ini yaitu Syekh Ahmad at-Thayyib.

Syekh Ahmad bin Muhammad bin Ahmad at-Thayyib merupakan seorang ulama yang nasabnya bersambung ke Imam Hasan bin Ali, lahir pada tanggal 2 Safar 1679 Η bertepatan dengan tanggal 6 Januari 1946 M di provinsi Qina, Mesir.
Diantara rekam pendidikan, beliau adalah seorang ulama yang menapaki pendidikan di Universitas al-Azhar Kairo, mulai dari madrasah hingga berlanjut ke jenjang perkuliahan, beliau menyelami ilmu Filsafat di Fakultas Ushuluddin jurusan Akidah dan Filsafat hingga lulus di tahun 1969 M. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di jurusan yang sama di Universitas Al-Azhar hingga mendapatkan gelar doktor pada tahun 1977 M. Selain gelar doktor, beliau juga memperoleh gelar master pada ranah Filsafat sekaligus sarjana pada waktu itu.
Tidak sampai di sana saja, Imam at-Thayyib sempat menjadi rektor Universitas al-Azhar, wakil Dekan Fakultas Dirasat Islami-yyah bahkan sempat menjadi Mufti Negara pada 10 Maret 2002 hingga 27 September 2007.
Syekh Ahmad at-Thayyib sendiri men-gungkapkan bahwa salah satu faktor terbesar pengangkatannya menjadi Imam Besar Al Azhar adalah karena Syaikh Thantawy, Imam besar Azhar sebelumnya.
Terlepas dari kemampunan beliau untuk menjabat sebagai seorang Imam Besar, beliau adalah orang yang sangat dicintai dan mendapat kepercayaan lebih dari Syekh Tan-thawy dan mengatakan bahwa jabatan rektor adalah jabatan yang tepat untuk melanggeng kepada jabatan Grand Syekh. Salah satu faktor dicintainya Imam at-Thayyib juga adalah karena keislaman beliau yang terap-likasikan dalam sifatnya.
Seorang pakar hukum dan pengacara senior, Prof. Dr. Jabir Jad Nasshar dalam tulis-annya di sebuah media lokal Mesir, la pernah mendapatkan kabar bahwasanya Grand Syekh tidak mengambil gajinya yang saat itu berjumlah puluhan ribu pound Mesir.
Imam at-Thayyib adalah salah satu ulama yang sangat menggaungkan nilai-nilai per-damaian antar umat islam maupun non islam. Dalam wawancaranya beliau mengutip Hadist Nabi Muhammad saw;
“أنا شهيد أن العباد كله كلهم إخوة “
Beliau menjelaskan bahwa Sayidina Nabi bersaksi bahwa hubungan antara hamba adalah persaudaraan. Maknanya, setiap hubungan hendaknya didasari oleh kasih sayang yang tulus antar manusia karena sejatinya tidaklah dinamakan persaudaraan melainkan adanya hubungan yang sangat erat dalam hati kita semua.
Beliau melanjutkan bahwa berdasarkan logika persaudaraan di atas, setiap kita hen-daknya saling menolong atas apa yang Allah Swt. berikan padanya. Seperti seorang yang menjadi pejabat memenuhi kemaslahatan rakyat dengan jabatannya, seorang dokter yang menolong orang sakit, ataupun seseo-rang yang memberi makan kepada yang sedang kelaparan.
Ditulis oleh: Muhammad Daffa