Kemanusiaan Sebelum Beragama

Oleh: Nayyara Afifa

Di zaman ketika simbol-simbol agama mudah dipertontonkan namun nilai-nilai kemanusiaan kerap ditinggalkan, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah agama masih menjadi cahaya yang memanusiakan, atau justru menjadi alat pembenaran yang meniadakan rasa? Dalam putaran dunia yang terus gaduh oleh klaim kebenaran, Habib Ali al-Jufri hadir membawa pesan yang tak hanya menyejukkan, tetapi juga mengguncang: “Kemanusiaan sebelum beragama.”

Sering kita temui individu atau kelompok yang sangat religius terlihat mereka rajin beribadah, solat, puasa, pergi ke masjid, namun secara batiniah dingin, jiwa sosial mereka tampak kering bahkan tidak ada empati terhadap sesama. Habib Ali menyoroti bagaimana hal ini menimbulkan ekstrimisme, intoleransi, bahkan pembenaran kekerasan, karena mereka lupa merawat sisi kemanusiaan mereka . Mereka mungkin merasa dirinya lebih dekat dengan Allah, merasa sedang berada di jalan Allah, padahal dalam kenyataan, ia sedang melukai ciptaan Allah dengan menghakimi yang bukan hak nya, zolim dan lainnya. Siapa sangka ternyata itu salah satu hal yang Allah tidak sukai. Ketika manusia beribadah tanpa hati yang lembut, tanpa empati, maka lahirlah “religiousness without humanity”. Dan itu sangat berbahaya, karena akan menjadikan agama sebagai alat kekuasaan, alat penghakiman, atau bahkan senjata permusuhan.

Ketika Rasulullah ditanya oleh Amr : “Siapa kamu?” lalu Rasul menjawab : “Aku Nabi”, Amr bertanya : Apakah Nabi itu?” “Utusan dari Allah” lalu ia Umar Bertanya : “Dengan apa Allah mengutusmu?” Beliau menjawab, “Dengan menyambung tali silaturahmi, menghancurkan berhala, dan agar Allah disembah semata, tidak disekutukan dengan apa pun.”

Di sinilah terlihat nilai-nilai kemanusiaan seperti silaturahmi sudah menjadi misi inti kerasulan, sejajar dengan tauhid dan penolakan terhadap kesyirikan. Ini adalah bukti bahwa agama Islam turun dengan membawa rahmat dan perbaikan sosial, bukan hanya aturan ibadah. Dengan itulah hidup ini tidak selalu tentang diri sendiri, melainkan butuh bantuan dan kontribusi manusia lainnya. Kita juga membutuhkan maaf orang lain dan memaafkan orang lain, memaafkan bukan berarti lemah, tidak membalas juga bukan berarti tidak mampu, melainkan karena seseorang memilih untuk mengutamakan nilai kemanusiaan di atas pelampiasan amarah. Sebuah ibadah akan kehilangan maknanya jika tak diiringi sikap memaafkan, karena sejatinya pengampunan adalah cerminan tertinggi dari spiritualitas yang hidup dalam jiwa.

Akan tetapi, kemanusiaan bukan berarti pengganti agama—karena agama adalah bagian dari fitrah manusia. Namun, kemanusiaan adalah wadah agar religiusitas bisa sejati. Jika kemanusiaan rusak, agama tak bisa optimal. Maka dari itu keseimbangan antara nilai ibadah spiritual (taqarrub kepada Allah) dan keterlibatan sosial (membantu sesama, menyuarakan keadilan) menjadi sangat penting. Keduanya harus berjalan beriringan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *