Oleh: Alif Rafdi
Pilu yang jatuh di kamarku
Mewarnai langit-langit Sendu
Abu menjelma biru
Menelurkan secarik bisu yang tak mampu diredam
Oleh bisingnya jalanan malam
Air mata pun berbisik
Bahwa asmaraloka terkadang hanya fatamorgana,
penuh dengan butir cinta dan suka
yang bertebaran di padang pasir
penuh luka Perpisahan adalah niscaya
yang merupakan cambuk suci bagi para hamba
Agar sadar tentang dunia, dan keterikatan fana Akan janji-Nya yang abadi Lalu,
akhirnya kita diuji lagi berulang kali, tanpa henti Satu per satu Perlahan demi perlahan Perpisahan demi perpisahan Perjuangan demi perjuangan Tanda tanya pun timbul dari balik selimut kekecewaan ‘Lalu, sampai kapan?’
Sampai kapan perjuangan akan bertemu dengan tanda titik?
Sampai kapan ujian akan terus menghiasi waktu, menit, dan detik?
Sampai kapan peluh dan air mata akan bersembunyi di balik percakapan dan momen asyik?
Manusia-manusia hidup, lalu makan, lalu minum, lalu berjuang, agar merdeka Merdeka dari isi kepala dan masa lalu yang setiap hari menjajah hati dan diri Perjuangan adalah perjalanan menuju keabadian sejati dan nikmat suci yang dinamakan dengan Taman-taman surga pun sungai berjuta warna milik-Nya