PRO-PALESTINA ANTI-SEMITISME

Palestina adalah tanah suci tiga agama besar yang sepanjang sejarah selalu menjadi rebutan. Tumpah darah telah berkali-kali terjadi di sana, dengan puncaknya masih terus berlangsung hingga hari ini. Di permulaan abad ke-20, tanah Palestina telah menjadi sasaran penjajahan oleh gerakan Zionis yang mendirikan negara Israel pada tahun 1948. Sejak saat itu, konflik yang berlangsung bukan hanya soal perebutan wilayah, tetapi menyangkut hak kehidupan, martabat, dan keadilan bagi rakyat Palestina.

Di berbagai penjuru dunia, baik di media sosial maupun forum-forum internasional, isu Palestina menjadi perdebatan yang tak berujung. Sekarang, Palestina bukan lagi sekadar isu agama, melainkan telah menjadi isu kemanusiaan. Banyak masyarakat dunia dari berbagai latar, baik non-Muslim maupun non-Arab, ikut bersuara membela hak-hak rakyat Palestina. Aksi-aksi solidaritas bermunculan di jalan- jalan kota besar dunia, mulai dari London, New York, Paris, hingga Jakarta. Bendera Palestina dikibarkan oleh siapa pun yang menentang penjajahan di era modern ini.

Anehnya, muncul tuduhan-tuduhan yang berusaha membungkan dukungan masif ini: salah satunya yaitu tuduhan anti-Semitisme. Tuduhan ini kerap dilontarkan oleh pihak yang pro-Israel terhadap siapa pun yang mengkritik tindakan brutal Israel. Namun, sebenarnya apa sih anti-Semitisme itu?

Singkatnya, anti-Semitisme adalah kebencian terhadap kaum Yahudi. Puncaknya terjadi ketika Adolf Hitler membantai dan mengusir jutaan orang Yahudi dari tanah Jerman. Setidaknya, itu pengertian yang selama ini disuarakan oleh mereka yang pro-Israel. Akan tetapi, apakah definisi itu sepenuhnya benar? Apakah setiap kritik terhadap Israel otomatis dianggap anti-Semitisme?

Ayo kita flashback sebentar. Istilah “Semitik” sendiri berasal dari nama Sam bin Nuh, salah satu dari tiga anak Nabi Nuh: Sam, Ham, dan Yafits.

  • Keturunan Ham tersebar di wilayah Afrika, umumnya berkulit gelap.
  • Keturunan Yafits menyebar ke wilayah Eropa, menjadi ras kulit putih.
  • Sedangkan keturunan Sam menyebar ke kawasan Timur Tengah.

Istilah Semitik kemudian digunakan untuk menyebut bangsa dan bahasa yang berasal dari kawasan Timur Tengah, seperti Arab, Ibrani, Aram, hingga Akkadia. Jadi, bangsa Arab, termasuk Palestina, adalah bagian dari bangsa Semitik. Artinya, orang Palestina juga termasuk bangsa Semitik!

Jadi, menyebut orang yang mendukung Palestina sebagai anti-Semitisme sebenarnya sama anehnya seperti mengatakan, “Pro-Jawa Barat adalah anti- Sunda.”. Padahal, mayoritas Jawa Barat adalah orang Sunda. Maka, sangat janggal jika para pendukung Israel menuduh gerakan pro-Palestina sebagai gerakan anti-Semitisme. Karena, faktanya, Palestina juga dihuni bangsa Semitik.

Lebih dari itu, banyak orang Yahudi di luar sana yang juga mendukung Palestina. Mereka paham betul bahwa Zionisme tidak mewakili semua Yahudi. Zionisme bukanlah gerakan agama, melainkan gerakan politik yang punya agenda kekuasaan dan kekuatan besar.

 Zionisme pertama kali dimunculkan oleh Theodor Herzl pada akhir abad ke-19, karena kaum Yahudi mengalami diskriminasi di Eropa. Namun, solusi yang ditawarkan Herzl bukanlah integrasi atau rekonsiliasi, melainkan pendirian negara eksklusif Yahudi di tanah orang lain. Inilah yang kemudian menjadi awal dari konflik panjang yang masih berlangsung hingga hari ini.

Kritik terhadap Israel bukanlah bentuk kebencian terhadap Yahudi. Kritik tersebut ditujukan kepada tindakan anarkis, penjajahan, dan kekerasan yang dilakukan oleh penjajah.

 Yang terjadi di Palestina bukan sekadar konflik perang biasa. Ini adalah pertunjukan kebiadaban yang dipamerkan ke dunia. Adegan-adegan keji di sana bukanlah film fiksi Hollywood, tetapi kisah nyata yang terus-menerus terjadi. Rumah sakit dibom; jurnalis dibunuh; anak-anak tak berdosa menjadi korban. Semua ini menjadi catatan berdasar kemanusiaan modern.

Ironisnya, masih ada sebagian orang yang mengaku beragama Islam malah mendukung kekejaman ini, entah karena kepentingan politik atau kebodohan. Mereka lupa bahwa Palestina bukan hanya persoalan Arab, tetapi juga persoalan umat dan kemanusiaan. Kita tidak sedang membela satu suku atau agama, tetapi membela nilai-nilai keadilan, HAM, dan kemerdekaan. Semoga kita tak pernah berhenti berdoa dan tak hanya berhenti di sana. Perjuangan untuk keadilan membutuhkan suara yang lantang, pikiran yang jernih, dan aksi yang nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *