Ditulis oleh: Salsabila Ibrahim
“Apa papa tidak bisa menarik mundur??” Yosef berbicara dengan nada keras kepada orang di hadapannya. Orang yang dipanggil Papa itu sama sekali tidak merespon dan terus melanjutkan sarapannya.
“Apa di hati Papa tidak ada lagi rasa kasihan melihat orang-orang Palestina terus dibantai seperti itu?” Yosef menatap bingung Papanya.
“Mereka pantas mendapatkan itu!” Papanya menjawab ketus. “Tapi mereka tidak bersalah!” Balas Yosef tak mau kalah. “Mereka bersalah karena sampai hari ini tidak mau menyerahkan tanah mereka dan minggat dari sini.” Ibunya Madam Sofia ikut berbicara.
“Kau masih kecil, jadi tidak tahu apa-apa.” Papanta menambahkan. “Bangsa Yahudi yang salah karena telah merebut tanah sah milik bangsa Palestina, kita penjajah!”
PRAAKK. Meja makan dipukul dengan keras. Wajah Jendral Almos merah dan tegang. Yosef tahu Papanya marah ia pun langsung pergi meninggalkan Papanya sebelum kemarahannya benar-benar memuncak.
Tiba-tiba dentuman keras mengejutkan Yosef. Asap mengepul dimana-mana, Yosef segera berlari menghindar untuk melindungi diri. Bom fosfor, lagi-lagi Papa, pasti Papa, ini pasti balasan atas serangan roket-roket orang Palestina kemarin, batinnya.
Tangisan terdengar meraung-raung. Ketika serangan telah selesai, Yosef keluar dari persembunyiannya. Hatinya teriris, kondisi saat itu benar-benar kacau, bangunan banyak yang runtuh. Seorang ibu menghampirinya meminta bantuan sambil menangis.
“Cepat-cepat, masukan mereka kedalam mobilku. Aku akan membawa mereka ke rumah sakit.”
Korban yang kebanyakan anak-anak segera dimasukkan kedalam mobil milik Yosef yang memang besar, sebagian ibu-ibu mereka juga masuk. Denga segera Yosef membawa mereka kerumah sakit.
“Aku tahu siapa kau?” teriak seorang pemuda, “Kau anak Jendral Almos yang kejam itu kan?”
Yosef hanya terdiam. Dia maklum dengan pemuda tersebut, yang pastinya menyimpan kemarahan yang besar.
“Kau bangsa penjajah. Lihat apa yang kalian perbuat pada kami. Anak-anak menjadi yatim piatu. para istri menjadi janda. Kami tidak lagi bisa menikmati masa remaja kami, kami ingin sekolah dengan tenang, tapi kalian merampas semuanya.” Tambah pemuda yang lain.
“Jangan kalian berteriak-teriak didepannya seperti ini. Dia yang telah membawa anakku kerumah sakit, seharusnya kalian berterima kasih padanya.” Semua terdiam.
Siang itu Yosef kembali bertemu dengan pemuda-pemuda ketika dia berada di rumah sakit. Sekarang mereka telah bersahabat, walau sering terlihat rasa takut dari wajah-wajah mereka, tapi Yosef berusaha memberikan mereka pengertian.
“Kalian mau kemana?”
“Kami hendak shalat berjamaah dimasjid al-Aqsa, tapi itu pun kalau pasukan Papamu mengizinkan kami. Kata Amir.
“Apakah aku boleh ikut?”
“Boleh. Tapi kau tidak boleh masuk kedalamnya!” jawab Mahmud. “Kenapa begitu?”
“Karna kau belum suci.”
“Lebih tepatnya kau seorang Yahudi, dan al-Aqsa haram kau injak, karena hanya orang-orang Islam lah yang boleh memasukinya.”
Yosef hanya terdiam. Hatinya semakin berontak. Islam. Disekolah dia diajarka bahwa Islam adalah agama teroris dan harus dibasmi di muka bumi.
Kedua temannya diperbolehkan memasuki Masjid Al-Aqsa oleh tentara Israel, sedangkan dia menunggu diluar masjid sambil memperhatikan tentara-tentara yang berlalu lalang di halaman masjid. Dia membenahi topinya agar tidak dikenali tentara-tentara Papanya.
“Maaf, kau menunggu lama.” Kata Amir ketika mereka selesai salat. “Tidak apa-apa”
Yosef diam sejenak.
“Aku ingin bertanya tentang sesuatu pada kalian, boleh?”
“Boleh, tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Bagaimana caranya menjadi seorang Muslim?”
“Apa? Kau ingin menjadi Muslim?” Amir dan Mahmud terkejut. “Iya. Apa tidak boleh?”
“Boleh, tapi apa kau yakin?”
Yosef mengangguk.
“Subhanallah, mari kami ajak kau menemui Ayahku!” kata Amir.
Ayah Amir adalah seorang ulama terkemuka dan disegani di Jerussalem. Dia sudah tua, rambutnya telah dipenuhi oleh uban, tapi badannya tetap kelihatan sehat dan bugar.
“Aku mendengar dari anakku, bahwa kau ingin menjadi Muslim. Benar begitu?” kata Ustad Zaif dengan nada suara yang lembut.
“Benar Ustad.” Jawab Yosef
“Apakah Anakku Amir dan temannya Mahmud, memaksamu untuk menjadi Muslim?”
“Tidak Ustad, Aku ikhlas menjadi Muslim.”
“Baiklah. Sebelumnya bersihkanlah tubuhmu, pergilah mandi.” Setelah selesai mandi, Yosef kembali
menemui Ustad Zaif.
“Baiklah, sekarang kau ikuti dan ucapkan dua kalimat syahadat yang aku bacakan ini. Ustad Zaif kemudian membacakan dua kalimat syahadat dan dengan disaksikan banyak orang Yosef mengikuti bacaan dua kalimat syahadat yang dibacakan Ustad Zaif.
“Alhamdulillah, sekarang kau sah menjadi seorang muslim.” Yosef pun
menangis. Tidak pernah dia merasakan kebahagian seperti sekarang ini, nikmat dan hidayah Islam Allah berikan kepadanya.
“Tahukah kau Yosef? Kakekmu, Hans juga adalah seorang Yahudi yang kemudian memeluk Islam. Sebelum kematiannya, dia sempat berkata kepadaku bahwa dia punya seorang cucu yang gagah dan tampan. Ternyata dia benar.”
Keharuan yang di alami Yosef seketika hilang karena dikejutkan bunyi dentuman hebat dari luar sana.Keadaaan kacau, warga berhamburan. Tentara-tentara Israel memasuki kawasan al- Quds, mereka mulai menyerang dengan tembakan yang membabi buta.
“Cepat-cepat sembunyi!” teriak Ustad Zaif. “Amir, bawa Yosef ketempat yang aman!”
Amir dengan tergesa-gesa membawa Yosef keluar untuk mencari tempat yang aman. Dari segala arah, tentara Israel terus menumpahkan butir-butir pelurunya. Yosef mencoba memungut kerikil-kerikil yang bertebaran dan melemparkan ke arah tentara-tentara tersebut.
Sementara itu, Yosef terus menyerang para tentara dengan kerikil-kerikil yang dipungutnya di jalanan. Amir terus mendesaknya dan mencari tempat yang aman.
“Kau tidak usah khawatirkan aku, InsyaAllah inilah saatnya bagiku!”
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku titip ini buat ibuku.” Yosef memberikan sebuah gelang dari perak kepada Amir, “Kirimkan salamku buat beliau, katakan aku berterima kasih karena telah membesarkanku selama ini.
Yosef berlari ke arah para tentara. Amir terus berteriak memanggilnya. Di tengah kerumunan orang-orang. Yosef terus melemparkan kerikilnya.
“Kau tembak anak itu!” perintah salah seorang komandan ke anak buahnya. “Tapi, bukan kah dia Yosef, anakknya Jendral Almos?”
“lya, tapi ini perintah Jendral sendiri. Cepat tembak!”
Yosef yang tidak tahu dia menjadi sasaran, terus melemparkan kerikil-kerikilnya. Tiba-tiba dadanya mulai terasa ngilu, satu persatu timah panas menembus dadanya, darah mulai bercucuran. Yosef tersungkur. Dicobanya bangkit dengan segenap kemampuan yang tersisa, dan terus mengayunkan lemparannya kearah para tentara, namun kali ini Yosef tidak mampu berbuat apa-apa, sebuah tembakan pas mengenai kepalanya. Nafasnya mulai tersengal-sengal, badannya lemah tak berdaya. Akhirnya Yosef pergi menghadap Tuhannya dengan meninggalkan semangat yang terus membara, semangat untuk membela saudaranya tertindas. Yosef hilang bersama cahaya keikhlasan hatinya, cahaya yang menerangi relung jiwa mudanya yang selalu memberontak.