Oleh: Ahmad Fakhry
Bagaimana anda membayangkan emosi sebagai sumber kekuatan dalam hidup? Pertanyaan ini sering muncul dari fenomena dimana konteks emosi seringkali diidentifikasikan sebagai sumber kekuatan seseorang dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Namun demikian, pemaknaan emosi tidak selalu bersifat positif, dan konstruktif. Bahkan dalam beberapa kasus, emosi sering muncul secara tiba-tiba dan tidak dapat dikendalikan, sehingga ketika seseorang dikuasai emosi, dia akan kesulitan menggunakan akalnya untuk berpikir secara rasional.
Emosi sendiri memiliki beberapa pengertian, salah satunya berasal dari bahasa latin yaitu “emovere” yang berarti “bergerak menjauh”. Sedangkan arti secara umum, emosi merupakan suatu perasaan atau kondisi psikologis yang khas dan cenderung mendorong lahirnya suatu tindakan. Dalam beberapa kejadian, seseorang seringkali mengalami ketidakstabilan emosi pada saat remaja. Nyatanya yang mereka pahami hanyalah kebuntuan saat merasakannya, padahal emosi pada hakikatnya dapat dikendalikan, meskipun tidak sepenuhnya berhasil, tetapi kita bisa menggunakan emosi tersebut untuk melakukan hal yang positif.
Emosi bukan hanya tentang amarah, tetapi juga mencakupi beberapa kondisi psikologis seperti bahagia, sedih, senang, dll. Diantaranya, ada beberapa hal yang harus dimiliki seseorang untuk mengendalikan emosi, termasuk sudut pandang dengan emosi yang dia alami.
Saat seseorang melihat emosi dengan baik, dia akan menggunakannya untuk dijadikan sebagai acuan dalam mencapai tujuannya. Pada fenomena ini, emosi tersebut dapat disalurkan dengan baik, dan menjadikan output (hasil) yang bagus. Banyak orang yang tidak memahami bagaimana emosi muncul dan cara memanfaatkannya, mereka hanya tahu bahwa emosi merupakan keadaan yang tidak bisa dikendalikan.
Pada era sekarang, dinamika kehidupan modern seringkali menimbulkan kecemasan, egoisme, dan depresi. Kenyataan ini menuntut kepekaan dan ketahanan kita dalam menyikapinya. Dimana kita juga memerlukan cara pandang yang tepat dalam mengendalikan emosi.
Mengutip dari David J. Lieberman dalam bukunya The Psychology of Emotions, sudut pandang manusia terkait emosi terbagi menjadi 2 pilihan, yaitu pilihan bertanggung jawab (berorientasi jiwa), dan pilihan tak bertanggung jawab. Berikut penjelasan dan arah yang akan dicapai ketika kita memilih salah satunya:
- Pilihan bertanggung jawab (berorientasi jiwa) > harga diri meningkat > ego mengecil > sudut pandang melebar > realitas tak terdistorsi > melihat dan menerima kebenaran (bahkan meskipun sulit atau menyakitkan) = kesehatan emosional yang positif > bertindak secara bertanggung jawab.
- Pilihan tak bertanggung jawab (berorientasi ego/tubuh yang terlalu dimanjakan) > harga diri menurun > ego menguat > sudut pandang menyempit >realitas terdistorsi > tak bisa/tak mau melihat dan menerima kebenaran (ketika sulit atau menyakitkan) = kesehatan mental negatif > bertindak secara tak bertanggung jawab.

Adapun emosi sendiri mengandung informasi yang bermanfaat, termasuk kemarahan, kecemasan, depresi, dan antusiasme. Kemarahan merupakan isyarat tentang sesuatu yang keliru. Kecemasan menunjukkan ketidakpastian. Depresi menunjukkan rasa ketidakberdayaan. Sedangkan antusiasme merupakan keadaan dimana seseorang sedang bergairah.
Biasanya, dinamika emosi-emosi di atas merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Emosi itulah yang mendorong individu untuk memberikan respons atau bertingkah laku terhadap stimulus. Dimana seperti yang kita tahu, setiap pergerakan yang bersifat reaktif tak jarang berdampak pada suatu hal yang impulsif. Oleh karena itu, emosi dapat bersifat konstruktif atau destruktif, yang memiliki maksud bahwa emosi dapat membangun atau menghancurkan diri manusia itu sendiri.
Untuk mengenali potensinya, kita perlu melakukan klasifikasi fungsi agar dapat melihat lebih dalam pergerakan emosi yang senantiasa kita rasakan. Hal ini telah dilakukan oleh Claudia Sabrina dengan mengutip dari bukunya yang berjudul Seni Mengendalikan Emosi. Disana terdapat beberapa fungsi emosi, yaitu:
- Pembangkit Energi. Emosi dapat membangkitkan dan memobilisasi energi. Amarah menggerakkan untuk menyerang, rasa takut menggerakkan untuk lari, sedangkan cinta mendorong untuk mendekat dan bermesraan.
- Pembawa Informasi. Kondisi diri kita dapat diketahui dari emosi. Jika marah, kita tahu bahwa rasa ini menandakan adanya hambatan atau diserang oleh orang lain. Kesedihan berarti kehilangan sesuatu yang disenangi. Merasa bahagia berarti memperoleh sesuatu yang disenangi atau menghindar dari hal yang dibenci.
- Pembawa Pesan. Ungkapan emosi dapat diketahui secara universal. Seperti dalam retorika, diketahui bahwa pembicaraan yang menyertakan seluruh emosi dalam pidato dipandang lebih hidup, dinamis, dan lebih menyenangkan.
- Sumber Informasi. Kita mendambakan kesehatan dan mengetahuinya saat merasa sehat. Seseorang mencari keindahan dan mengetahui bahwa dia memperolehnya ketika dirinya merasakan kenikmatan estetis.
Dalam hal ini, penting untuk meningkatkan kecerdasan emosi yang merupakan kecakapan emosional meliputi kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan memiliki daya tahan ketika menghadapi rintangan. Karena berdasarkan penelitian, para ahli psikologi menyatakan bahwa pasien-pasien yang bertahan hidup cukup lama mempunyai ikatan kuat dan tegas dengan emosi mereka. Maka dari itu, meningkatakan kecerdasan emosi adalah salah satu cara untuk bertahan hidup.
Kecerdasan emosi di iringi dengan memahami apa yang sedang di rasakan, kemudian tubuh mengolah informasi yang didapatkan, dan menghasilkan keputusan yang tepat. David J. Lieberman mengatakan bahwa; “tiga kekuatan dalam diri kita memang sering kali saling bertentangan, yaitu jiwa, ego, dan tubuh. Singkatnya, jiwa ingin melakukan sesuatu yang benar, ego ingin dianggap benar dan memandang diri sendiri secara optimal, sedangkan tubuh ingin lepas dari itu semua”.
Pernyataan di atas dapat dipahami bahwa, melakukan sesuatu yang rasanya nyaman atau menyenangkan adalah dorongan yang berasal dari tubuh kita. Contoh perilaku yang menyimpang dari tipe ini adalah makan atau tidur berlebihan, yang dapat dinilai bahwa kita melakukan sesuatu hanya karena itu terasa menyenangkan. Bila didorong ego, tindakan kita bisa beragam, mulai dari bercanda dengan mengejek orang lain hingga membeli barang-barang yang tidak sepenuhnya berguna bagi diri kita. Kala ego berkuasa, kita bukan terdorong untuk melakukan sesuatu yang memang baik, melainkan sesuatu yang membuat kita terlihat baik.
Kebebasan emosional di atas bukan berarti kita bebas melakukan apa saja yang kita inginkan, melainkan melakukan sesuatu yang benar-benar ingin kita lakukan, terlepas dari hasrat yang menguasai diri kita. Ibaratkan seperti orang yang sedang berdiet, dia ingin mengurangi makanan yang mengandung manis, tetapi tiba-tiba dia merasakan desakan untuk menyantap sepotong cokelat. Dia melawan godaan itu, tapi pada akhirnya dia menyerah. Apakah itu kemerdekaan atau perbudakan? Apakah itu keinginan dia yang sebenarnya?
Perumpamaan di atas merupakan penekanan, bahwa kecerdasan emosi tergantung dari cara kita mengendalikan emosi. Ciri-ciri kecerdasan emosi (Emotional Quotient) atau EQ berkaitan dengan kecerdasan intelektual atau IQ (Intelligence Quotient). IQ dan EQ bukanlah keterampilan yang saling bertentangan melainkan sedikit terpisah. Mungkin beberapa orang mencampurkan ketajaman akal dengan ketajaman emosi.
Padahal orang dengan IQ yang tinggi, tetapi kecerdasan emosionalnya rendah atau IQ rendah dengan kecerdasan emosional yang tinggi relatif langka. Jack Blok, seorang ahli psikologi dari University of California Berkeley, Amerika Serikat, telah membuat suatu perbandingan diantara orang yang memiliki IQ tinggi dengan orang kecakapan emosionalnya tinggi. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa tipe murni IQ tinggi, dengan mengesampingkan kecerdasan emosional adalah orang yang cerdas dalam pemikiran, tetapi canggung di dalam kehidupan pribadi. Adapun beberapa cara menyusun kecerdasan emosi, antara lain:
- Mencerap Emosi
Dasar kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mencerap emosi diri sendiri dan emosi orang lain. Tidak seperti orang yang kehilangan kemampuan untuk membaca, seseorang yang cerdas secara emosional selalu menyimak perasaannya sendiri. Seseorang juga akan mampu mengenali dengan cepat emosi marah, dengki, bersalah, ataupun depresi. Hal ini sangat berharga karena banyak orang memiliki emosi yang terpecah-belah tanpa tahu mengapa mereka merasa tidak nyaman.
- Menggunakan Emosi
Jika seseorang cerdas secara emosional, dia akan memakai perasaannya untuk meningkatkan pemikiran dan pengambilan keputusan. Ingatan seseorang tentang cara dia bereaksi secara emosional pada masa lalu dapat membantu dirinya untuk bereaksi dengan lebih baik terhadap situasi-situasi baru.
- Memahami Emosi
Seperti yang telah disebutkan di atas, emosi mengandung informasi yang bermanfaat bagi kehidupan seseorang. Kemarahan merupakan isyarat tentang sesuatu yang keliru. Kecemasan menunjukkan ketidakpastian. Depresi berarti sedang merasa tidak berdaya. Anstusiasme menunjukkan bahwa seseorang sedang bergairah. Jika seseorang cerdas secara emosional, dia akan mengetahui penyebab, makna, dan pengaruh emosi pada dirinya.
- Mengelola Emosi
Kecerdasan emosional meliputi suatu kemampuan untuk mengelola emosi dirinya sendiri dan emosi orang lain. Dengan demikian, seseorang akan tahu cara menenangkan diri ketika marah, bahkan dia juga tahu cara menenangkan orang lain. Jika seseorang cerdas secara emosional, dia akan mampu menguatkan atau melemahkan emosi, tergantung pada situasi yang sedang dia alami.
Jika seseorang sudah memiliki kecerdasan emosional, dia akan memiliki tanda-tanda yang dapat kita lihat, yaitu:
- Memikirkan Reaksi. Kecerdasan emosional berarti mengenali perbedaan reaksi emosi yang baik dan reaksi emosi yang buruk terhadap suatu keadaan.
- Situasi Sulit adalah Tantangan. Sikap optimisme ini adalah bentuk nyata bahwa seseorang mampu mengenali emosi negatif di dalam dirinya, tetapi memilih berfokus pada hal yang positif saja.
- Mengatur Emosi. Rasa cemas yang berlebihan dapat menghambat pencapaian kognitif. Maka, mengetahui bagaimana menemukan porsi kecemasan yang tepat bisa membantu seseorang dalam mendapatkan hal yang positif.
- Mengenali Perasaan. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional selalu tahu apa yang sedang dia rasakan.
- Berpikiran Terbuka. Seseorang akan selalu menerima ide yang berbeda, saran, atau kritik dari orang lain, dan bisa bekerja sama dengan siapa saja. Dia juga selalu menghindari berpikiran negatif soal orang lain sebelum memahami duduk perkaranya.
- Berani Meminta Maaf. Setiap orang tahu bahwa manusia pasti membuat kesalahan, tetapi yang terpenting adalah belajar dari kesalahan tersebut. Maka, meminta maaf bukanlah tanda kekalahan atau kelemahan bagi seseorang, justru dapat dianggap sebagai penanda bahwa dia cukup kuat untuk bangkit dari kesalahan.
Secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa emosi merupakan potensi kekuatan yang tersembunyi pada diri setiap orang. Ia menjadi anugerah yang mendasari tingkah laku seseorang serta merupakan bahasa komunikasi yang unik di dalam diri manusia. Ketika individu mampu memahami dan mengelola emosi dengan baik, emosi tersebut dapat berperan sebagai sumber kekuatan yang mendorong tindakan positif serta mendukung pengambilan keputusan yang rasional.
Kecerdasan emosional menjadi faktor utama dalam pemanfaatan emosi secara konstruktif. Melalui kemampuan untuk mencerap, menggunakan, memahami, dan mengendalikan emosi, individu dapat meningkatkan ketahanan diri, memperluas cara pandang, serta bertindak lebih bertanggung jawab dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan. Dengan demikian, emosi tidak lagi dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai modal psikologis yang dapat memperkuat kualitas hidup.
Keberhasilan dalam menjadikan emosi sebagai kekuatan, sangat ditentukan oleh cara seseorang menyikapinya, apakah ia mengikuti dorongan impulsif yang dikuasai ego, atau mengarahkan emosinya dengan kesadaran yang tepat. Oleh sebab itu, meningkatkan kecerdasan emosional menjadi langkah penting dalam membangun karakter yang matang, menciptakan hubungan sosial yang sehat, serta menghadapi tantangan kehidupan secara efektif dan berkelanjutan.