Ditulis oleh: Dzikra Musyafaáh
Namaku Entong. Pagi itu aku terbangun lebih awal dari biasanya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Hari ini adalah hari pertamaku menjadi mahasiswa. Sejak kecil, kuliah adalah impianku. Yang terbayang di benakku, kehidupan kampus penuh dengan kebebasan: bebas memilih jurusan yang disukai, bebas berpakaian, bebas bergaul, dan bebas menentukan jalan hidup sendiri. Mungkin karena bayangan itulah aku selalu bersemangat membayangkan dunia perkuliahan.
Aku memilih Jurusan Ilmu Komunikasi. Katanya, mahasiswa komunikasi harus pandai berbicara, pandai mendengar, dan pandai memahami orang lain. Saat itu aku belum tahu bahwa pelajaran terbesarnya justru akan datang bukan dari buku, melainkan dari dua orang teman yang baru kukenal.
Aku memasuki ruang kelas dengan sedikit gugup. Suasananya masih canggung. Semua mahasiswa duduk diam sambil sesekali melirik satu sama lain. Tak lama kemudian seorang dosen masuk.
“Selamat pagi, semuanya. Perkenalkan, nama saya Toyyibin. Kalian boleh memanggil saya Pak Toyyib. Hari ini kita mulai dengan saling berkenalan. Kita mulai dari kamu.”
Suasana kelas yang tadinya kaku perlahan mencair. Satu per satu mahasiswa memperkenalkan diri. Ada yang berasal dari kota besar, ada pula yang dari pelosok desa. Logat bicara mereka beragam, begitu pula sifat dan pembawaannya.
Jujur saja, aku tidak langsung mengingat semua nama mereka. Hanya ada dua nama yang langsung melekat di kepalaku: Kumala dan Sumala. Selain karena namanya hampir mirip, mereka juga duduk berdampingan sehingga banyak yang mengira mereka saudara kembar. Padahal, mereka baru saling mengenal hari itu, sama sepertiku.
“Kringgg…!”
Bel istirahat berbunyi. Aku menuju kantin dan membeli semangkuk bakso. Saat mencari tempat duduk, tanpa sengaja aku melihat Kumala dan Sumala duduk bersebelahan. Aku pun ikut bergabung. Obrolan kami mengalir begitu saja. Kami saling bertanya asal daerah, hobi, dan alasan memilih jurusan komunikasi. Meski baru bertemu beberapa jam, suasana terasa akrab. Hingga bel masuk berbunyi, kami bertiga berjalan kembali ke kelas sambil terus mengobrol.
Keesokan harinya, Pak Toyyib memberikan tugas kelompok membuat berita, “Kalian bebas menentukan topiknya. Yang penting memenuhi unsur-unsur berita.” Tanpa diduga, aku satu kelompok dengan Kumala dan Sumala. Setelah berdiskusi sebentar, kami sepakat mengerjakan tugas di rumah Kumala pada hari Sabtu karena rumahnya paling mudah dijangkau.
Hari Sabtu pun tiba. Aku menjemput Sumala di rumahnya sebelum kami berangkat bersama menuju rumah Kumala. Sepanjang perjalanan kami membicarakan tugas yang akan dikerjakan.
Begitu tiba, kami dibuat terkejut. Rumah Kumala tampak besar dan megah. Halamannya luas dengan taman yang tertata rapi.
“Wah…” gumamku tanpa sadar.
Yang membuatku heran, Kumala yang aku lihat selalu berpakaian sederhana. Tidak pernah memakai barang-barang mencolok. Penampilannya sama seperti mahasiswa pada umumnya.
Seorang wanita yang ternyata ibu Kumala menyambut kami dengan ramah dan mengantar kami menuju ruang belajar.
Di atas meja sudah tersedia air putih dingin dan sepiring buah potong.
“Kalian belajar yang rajin ya,” ucap beliau sambil tersenyum.
“Iya, Bu. Terima kasih.”
Kami langsung mulai mengerjakan tugas. Sesekali kami bercanda, sesekali serius menyusun berita. Waktu berlalu tanpa terasa.
Saat melihat jam, ternyata sudah pukul sembilan malam.
“Besok lanjut di rumahku lagi?” tanya Kumala.
Belum sempat aku menjawab, Sumala langsung menyahut, “Di rumahku saja!”
Kumala mengangguk sambil tersenyum.
“Baik, kalau begitu besok di rumah Sumala.”
Kami pun berpamitan.
Dalam perjalanan pulang, Sumala tiba-tiba membuka pembicaraan.
“Aku nggak nyangka si Kumala ternyata anak orang kaya.”
“Iya juga,” jawabku singkat.
“Tapi masa iya tamu cuma disuguhi air putih sama buah? Pelit banget, ya.”
Aku terdiam.
“Makanya besok kerja kelompok di rumahku. Biar aku tunjukin gimana caranya menjamu tamu.”
Aku hanya mengangguk pelan. Entah kenapa, ucapan Sumala membuatku sedikit tidak nyaman. Namun, karena baru mengenalnya beberapa hari, aku memilih diam.
—
Keesokan harinya aku datang ke rumah Sumala.
Rumahnya jauh lebih sederhana dibanding rumah Kumala, tetapi suasananya hangat.
Aku datang lebih awal. Tak lama kemudian aroma pizza memenuhi ruang tamu.
“Silakan dimakan dulu!” kata Sumala sambil meletakkan dua kotak pizza, sepiring kentang goreng dan jus buah di atas meja.
Aku terkejut melihat hidangan sebanyak itu.
“Nah, begini dong kalau nyuguhin tamu,” katanya bangga. “Iya, kan, Tong?”
Aku hanya tersenyum canggung.
Tak lama kemudian Kumala datang.
“Ya ampun, Sumala. Kenapa repot-repot begini?” tanyanya.
“Ya memang harusnya begitu kalau ada tamu.”
Nada bicara Sumala terdengar seperti sindiran. Namun Kumala hanya tersenyum dan duduk tanpa membalas.
“Sudahlah, ayo kita kerjakan tugasnya dulu,” kataku berusaha mencairkan suasana.
Kami kembali fokus menyelesaikan berita. Sesekali kami menikmati hidangan yang tersedia.
Sekitar tiga jam kemudian terdengar suara pintu dibuka.
“Ayah pulang!” Sumala langsung berlari menyambut ayahnya.
“Yah, mana martabak kejunya?”
Ayahnya tampak kebingungan.
“Loh, kata Ibu tadi sudah dibelikan makanan. Jadi Ayah pikir tidak perlu beli martabak lagi.”
Seketika wajah Sumala berubah.
“Kan aku nggak bilang batal, Bu!”
Bentaknya ke arah sang ibu yang sedang keluar dari dapur.
Ibunya hanya terdiam. Wajahnya terlihat lelah, seolah sudah terbiasa menghadapi sikap putrinya.
Suasana mendadak canggung.
Aku dan Kumala saling berpandangan, lalu memilih kembali fokus menyelesaikan tugas.
Tak lama kemudian tugas kami selesai.
Pizza dan kentang goreng masih tersisa cukup banyak karena kami sudah kenyang.
“Kalau begitu kami pamit dulu ya,” kataku.
“Terima kasih banyak, Sumala,” ucap Kumala tulus.
“Iya… hati-hati.”
Jawaban Sumala terdengar lesu.
Di perjalanan pulang, pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan. Mengapa kejadian tadi bisa terjadi? Mengapa Kumala tetap tenang meski beberapa kali disindir? Dan mengapa aku merasa ada sesuatu yang belum kuketahui tentang mereka berdua?
Saat itu aku sadar, mengenal seseorang selama seminggu ternyata belum cukup untuk memahami siapa dirinya sebenarnya.
Keesokan harinya kami mempresentasikan hasil tugas di depan Pak Toyyib dan teman-teman sekelas. Syukurlah presentasi berjalan lancar. Aku sempat khawatir Sumala dan Kumala masih menyimpan rasa kesal setelah kejadian di rumah Sumala, tetapi di depan kelas mereka terlihat baik-baik saja, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Saat jam istirahat tiba, Kumala tidak ikut ke kantin karena membawa bekal dari rumah. Aku dan Sumala pergi berdua. Di tengah obrolan, Sumala kembali membahas Kumala.
“Aku tetap heran sama dia. Rumahnya gede, tapi pelit. Kayaknya keluarganya juga begitu.”
Aku hanya diam. Entah mengapa, aku mulai merasa ucapan Sumala tidak sepenuhnya benar. Kumala tidak pernah membalas sindiran ataupun menceritakan keburukan Sumala kepada siapa pun. Sikapnya justru selalu tenang.
Sepulang kuliah, Sumala mengajak kami pergi ke mall.
“Ayo, sekalian refreshing. Kita belum pernah jalan bareng, kan?”
Aku dan Kumala mengangguk setuju.
Sesampainya di mall, kami langsung menuju toko pakaian. Sumala terlihat sangat bersemangat. Hampir setiap beberapa menit ia mengambil pakaian baru dan membawanya ke ruang pas. Sementara itu, Kumala hanya berkeliling perlahan, memperhatikan setiap rak dengan teliti. Ia mencoba beberapa celana jeans, lalu mengembalikannya lagi karena merasa belum cocok.
Aku sendiri hanya mengikuti mereka dari belakang sambil sesekali memperhatikan tingkah keduanya.
Hampir satu jam berlalu, aku menunggu di dekat kasir.
Sumala datang lebih dulu sambil membawa lima potong pakaian.
“Totalnya lima ratus ribu rupiah, Mbak,” ujar kasir.
Sumala langsung membayar tanpa berpikir panjang, lalu pergi ke toilet.
Beberapa menit kemudian Kumala datang membawa satu celana jeans.
“Totalnya lima ratus ribu rupiah.”
Aku sontak terkejut. Satu celana jeans yang dibeli Kumala ternyata seharga lima pakaian milik Sumala.
Melihat ekspresiku, Kumala hanya tersenyum.
“Aku lebih suka beli satu barang yang bisa dipakai bertahun-tahun daripada banyak barang tapi cepat rusak.”
Aku mengangguk pelan. Ucapannya sederhana, tetapi masuk akal. Dalam perjalanan pulang, Sumala kembali berkomentar.
“Lihat, kan? Dia beli satu celana doang. Pantes kemarin nyuguhin air putih doang.”
Aku hanya tersenyum hambar. Kali ini aku tidak lagi mengangguk seperti sebelumnya.
Beberapa minggu kemudian, Pak Toyyib memberikan tugas liputan mengenai kegiatan sosial di lingkungan sekitar.
“Carilah kisah yang bisa menginspirasi masyarakat,” katanya.
Kumala mengusulkan sebuah panti asuhan yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Kami pun sepakat.
Sesampainya di sana, aku dibuat terkejut. Belasan anak kecil langsung berlari menghampiri Kumala.
“Kak Kumala datang!”
Mereka memeluknya dengan wajah penuh kegembiraan.
Aku dan Sumala saling berpandangan.
“Kamu sering ke sini?” tanyaku.
“Iya, kalau ada waktu luang.”
Belum sempat kami berbicara lagi, seorang pengurus panti menghampiri.
“Alhamdulillah, akhirnya datang juga. Anak-anak sudah menunggu dari kemarin.”
Beliau lalu bercerita bahwa Kumala hampir setiap bulan datang mengajar, membelikan buku tulis, bahkan diam-diam membantu biaya sekolah beberapa anak. Namun Kumala selalu meminta agar tidak diceritakan kepada siapa pun.
Aku menoleh ke arah Sumala.
Untuk pertama kalinya sejak kami berteman, ia benar-benar terdiam.
Beberapa hari setelah itu, kampus mengadakan penggalangan dana untuk korban banjir. Semua mahasiswa menyumbang sesuai kemampuan.
Saat giliran Kumala, ia memasukkan sebuah amplop tanpa berkata apa-apa.
Setelah acara selesai, panitia menghitung seluruh donasi.
“Pak, ada satu amplop berisi dua juta rupiah.”
Pak Toyyib terlihat terkejut.
“Siapa yang menyumbang?”
“Orangnya meminta namanya dirahasiakan.”
Tanpa sengaja aku melihat tulisan kecil di balik amplop itu, “Kumala”
Dadaku terasa sesak. Orang yang selama ini dicap pelit ternyata justru memberi paling banyak tanpa ingin diketahui siapa pun.
Tak lama setelah itu, ibu Sumala jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Aku segera menjenguk. Ketika sampai, ternyata Kumala sudah lebih dulu datang.
Ia membawa makanan, buah, dan beberapa kebutuhan sehari-hari.
Saat seorang perawat masuk, beliau berkata,
“Tagihan obat untuk hari ini sudah dibayarkan.”
Sumala tampak bingung.
“Dibayar siapa?”
“Tadi ada mahasiswi berjilbab. Sepertinya teman kalian.”
Perawat itu pergi sebelum sempat menunjukkan siapa orangnya.
Sumala perlahan menoleh ke arah Kumala.
“Kamu?”
Kumala tersenyum kecil.
“Anggap saja aku meminjamkan dulu.”
Air mata Sumala mulai menggenang.
“Tapi… setelah semua yang aku lakukan ke kamu… kenapa kamu masih mau nolong aku?”
Kumala menarik napas pelan.
“Karena aku tahu rasanya membutuhkan bantuan.”
“Maksudnya?”
Kumala menatap lantai beberapa saat sebelum akhirnya bercerita.
“Rumahku memang besar. Itu rumah peninggalan kakekku. Tapi sejak dua tahun terakhir ayah kehilangan usahanya. Kami belajar hidup hemat. Air putih dan buah yang kuhidangkan waktu itu bukan karena aku pelit, tetapi karena memang itu yang kami mampu siapkan tanpa harus berlebihan.”
Aku dan Sumala terdiam.
“Kamu tahu kenapa aku sering ke panti asuhan?” lanjut Kumala.
Aku menggeleng.
“Karena dulu keluargaku juga pernah dibantu banyak orang ketika sedang kesulitan. Sejak itu aku berjanji, kalau suatu saat diberi rezeki, aku ingin membantu orang lain tanpa perlu menceritakannya.”
Air mata Sumala akhirnya jatuh.
“Aku minta maaf, Kumala. Aku selalu menilaimu dari apa yang terlihat. Aku iri melihat rumahmu, lalu menganggap aku lebih baik hanya karena bisa menyuguhkan makanan lebih banyak.”
Kumala tersenyum lalu menggenggam tangan Sumala.
“Tidak apa-apa. Semua orang bisa salah menilai. Yang penting kita mau belajar memperbaikinya.”
Hari itu aku menyaksikan sendiri bagaimana sebuah permintaan maaf mampu menghapus prasangka yang selama ini memisahkan mereka.
Beberapa bulan kemudian, kami bertiga menjadi sahabat yang tak terpisahkan.
Sumala berubah menjadi pribadi yang jauh lebih berhati-hati dalam berbicara. Ia tidak lagi mudah menilai seseorang dari penampilan, harta, atau apa yang tampak di depan mata. Suatu hari, sebelum kelas berakhir, Pak Toyyib menutup perkuliahan dengan sebuah kalimat yang masih kuingat hingga sekarang.
“Mahasiswa harus mampu mencari fakta sebelum menyimpulkan sesuatu. Dalam berita, prasangka bisa melahirkan fitnah. Dalam kehidupan, prasangka bisa menghancurkan hubungan baik.”
Aku menoleh kepada Kumala dan Sumala yang kini sedang bercanda bersama. Tanpa kusadari aku ikut tersenyum.
Hari pertama kuliah dulu, aku mengira perkuliahan hanya mengajarkan cara berbicara. Ternyata aku keliru.
Di waktu ini, aku belajar bahwa memahami seseorang jauh lebih penting dari pada sekadar mendengarkan perkataannya.
Karena tidak semua orang yang hidup sederhana adalah orang yang kekurangan. Tidak semua orang yang hidup berkecukupan senang menghamburkan harta. Dan tidak semua kebaikan perlu diumumkan agar dianggap nyata.
Sejak saat itu aku mengerti, nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh besar rumahnya, mahal pakaiannya, atau banyaknya hidangan yang tersaji di meja. Nilai seseorang justru terlihat dari ketulusan hatinya ketika berbuat baik, bahkan kepada orang yang pernah menyakitinya.