SERUNYA MENUNGGU

Oleh: Dzaki Fadhlurrahman

Sebagai manusia normal yang menjalankan ibadah puasa, semua kegiatan di bulan Ramadhan terasa berbeda dari bulan-bulan lainnya. Namun, dari semua itu, hal yang paling berkesan dan terekam jelas di memori saya adalah menunggu kumandang azan Maghrib. Bagaimana aroma lezat dari gorengan dan teh hangat begitu menggoda, bahkan ketika makanan tersebut belum disentuh. Keadaan perut yang kosong perlahan diisi oleh harapan tentang seberapa nikmat rasa makanan dan  manis minuman ini nanti. Aneh, karena kadang rasa menunggu itu yang membuat kita lebih hidup, jauh sebelum suapan pertama menyentuh lidah.

Menariknya, kita sering menemukan hal seperti ini di luar bulan Ramadhan. Apa yang  kita rasakan di bandara saat menunggu jadwal keberangkatan, terkadang lebih menyenangkan daripada menjalani liburan selama tiga bulan di rumah. Perjalanan di dalam bus seringkali membuat kita lebih bahagia dibandingkan naik balon udara yang hanya beberapa menit. Bahkan, perjalanan menuju rumah kurir bagasi biasanya lebih mengasyikkan daripada saat barang yang kita pesan sampai di tangan. Hal inilah yang dalam istilah psikologi disebut dengan “Anticipatory Pleasure”.

Secara sederhana, anticipatory pleasure adalah rasa Bahagia atau gairah yang kita rasakan sebelum sebuah peristiwa yang menyenangkan benar-benar terjadi. Ini adalah salah satu dari dua jenis utama kesenangan (satunya lagi adalah “Consummatory Pleasure”, yaitu kepuasan saat kita benar-benar sedang melakukan aktivitas tersebut).

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Singkatnya, otak kita adalah ‘Mesin Pencari Janji’. Seorang peneliti bernama Wolfram Schultz menemukan kalau zat kebahagiaan kita (dopamin) justru tumpah ruah saat kita melihat tanda bahwa hadiah akan datang, seperti aroma gorengan atau bunyi notifikasi paket, bukan saat hadiahnya sudah di tangan.

Selain itu, menurut Kent Berridge, otak kita punya dua tombol: Tombol Mau dan Tombol Suka. Tombol ‘Mau’  digerakkan oleh dopamine yang menciptakan rasa ngebet dan penasaran berlebih di otak. Sedangkan Tombol ‘Suka’ berhubungan dengan Opioid yang bekerja ketika kita menikmati reward tersebut, memberikan rasa tenang dan rasa cukup akan sesuatu. Masalahnya ‘Tombol Mau’ didesain jauh lebih besar oleh alam, Mungkin itu juga menjadi opsi jawaban kenapa kita lebih domiman untuk berambisi daripada bersyukur dan menikmati. Tapi sisi positifnya, hal tersebut membuat manusia terus bergerak, berburu, dan tetap berusaha. Kalau kita cepat puas (Tombol Suka lebih besar), mungkin nenek moyang kita dulu sudah malas berburu dan kita tidak akan bertahan hidup sampai sekarang.

Itulah kenapa rasa menanti  terkesan menggebu-gebu, karena memang dopamin didesain untuk membakar semangat, sementara opioid bertugas memberi pelukan hangat ketika kita sudah sampai pada tujuan. Keduanya bekerja sebagai harmoni, satunya membuat kita tetap bergerak dan satunya membuat kita tetap bersyukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *