Pewarta: Ahmad Fakhry
KAIRO, WARTA DIPLOMASI – Peran diaspora Indonesia di luar negeri kembali menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam Simposium Internasional XVIII Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia yang digelar di Al-Azhar Conference Center (ACC), Kairo, Mesir, pada 19 September 2026. Perdebatan mengenai apakah diaspora perlu didorong untuk kembali ke tanah air atau tetap berkontribusi dari luar negeri dinilai bukan sebagai pilihan yang saling meniadakan.
Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo, Kuncoro Giri Waseso, menyampaikan bahwa pemerintah melihat kedua bentuk kontribusi tersebut sebagai bagian dari kepentingan nasional.

“kita memilih dua-duanya,” ujar Kuncoro dalam wawancara di sela-sela kegiatan. Menurutnya pada situasi tertentu, Indonesia membutuhkan talenta dan keahlian spesifik yang dimiliki diaspora untuk mendukung pembangunan di dalam negeri. Karena itu, terdapat kondisi ketika diaspora diharapkan dapat kembali dan berkontribusi secara langsung di tanah air.
Namun di sisi lain, keberadaan diaspora di luar negeri yang aktif membina jejaring global juga memberikan nilai strategis yang sangat besar bagi Indonesia.
“Ada kalanya banyak di antara diaspora itu sangat bermanfaat berada di luar negeri. Kita perlu mendorong mereka mengembangkan bakat dan jejaringnya, karena kepentingan nasional kita tidak hanya terbatas pada skala domestik, tetapi juga mencakup panggung internasional.”
- Pak Kuncoro Giri Waseso, KBRI Kairo
Kuncoro juga menekankan bahwa pembicaraan mengenai diaspora tidak semata-mata berkaitan dengan mahasiswa. Menurutnya, masyarakat Indonesia di luar negeri, termasuk Pekerja Migran Indonesia (PMI), merupakan bagian dari ekosistem diaspora yang memiliki kontribusi masing-masing.
JEJAK HISTORIS DIPLOMASI PELAJAR DI MESIR
Selain membahas peran diaspora masa kini, penyelenggaraan Simposium Internasional XVIII PPI Dunia di Mesir juga memiliki dimensi historis. Kairo dipilih sebagai lokasi kegiatan bukan hanya sebagai bagian dari agenda organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk menelusuri kembali jejak sejarah diplomasi Indonesia di Mesir.
Sejarah mencatat bahwa pada masa-masa awal pasca-Proklamasi Kemerdekaan, para pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir turut mengambil peran dalam memperkenalkan dan memperjuangkan kepentingan Republik Indonesia. Mereka membangun komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk tokoh politik, media, dan pemerintah Mesir.
Kegigihan para pelajar tersebut berbuah manis dengan didapatkannya pengakuan kedaulatan de jure pertama bagi Republik Indonesia dari pemerintah Mesir.
“Dahulu, para pelajar Indonesia di Mesir berjuang mendekati tokoh politik, media, dan pemerintah Mesir hingga Indonesia memperoleh pengakuan kemerdekaan,” tutur Kuncoro.
Bagi Kuncoro, sejarah tersebut relevan untuk kembali diingat oleh generasi pelajar Indonesia yang kini berada di berbagai belahan dunia. Jejak diplomasi para pendahulu menunjukkan bahwa mahasiswa dan diaspora dapat mengambil peran dalam membangun hubungan Indonesia dengan masyarakat internasional.
Simposium Internasional XVIII PPI Dunia yang mempertemukan perwakilan PPI dari 24 negara pun diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertukaran gagasan. Pertemuan tersebut juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat jejaring diaspora dan menghubungkannya dengan kepentingan pembangunan Indonesia.
Dengan demikian, pengalaman sejarah diplomasi pelajar Indonesia di Mesir menjadi pengingat bahwa kontribusi diaspora tidak selalu harus diwujudkan dengan kembali ke tanah air. Dalam konteks tertentu, membangun kapasitas, memperluas jejaring, dan mengambil peran di lingkungan internasional juga dapat menjadi bentuk kontribusi bagi Indonesia.