Ditulis Oleh: Samsudin Ujang
“Barang siapa yang naik ke atas mimbar atau podium tanpa persiapan yang MATANG, maka bersiaplah ia akan turun tanpa penghormatan”
Benjamin Franklin menuturkan hal yang serupa, bahwa gagal mempersiapkan diri adalah salah satu langkah dalam mempersiapkan kegagalan.
Kedua adagium di atas seakan dapat dikatakan mencerminkan salah satu acara terbesar di lingkup Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) yang justru mendapatkan banyak kritik. Kritik yang dilontarkan bukanlah asumsi negatif melainkan fakta, bahwa ada indikator-indikator keberhasilan sebuah acara yang luput diperbincangkan oleh penyelenggara.
Penulis tidak akan berfokus pada berbagai indikator tersebut, Akan tetapi, meluruskan kekeliruan paradigma dan respon terhadap kritik yang menyebar.
Kritik pertama kali dilayangkan oleh Edi Lukito melalui situs web Bedug. Kritik itu berisi tentang nihilnya apresiasi yang sepadan akan perjuangan atlet dan besarnya skala acara. Mirisnya, banyak pembaca yang tergesa-gesa dalam memahami kritikan tersebut.
Salah satunya, Muhammad Fachry dalam tulisannya di situs web Pena Darussalam (Pendar). Fachry sebagai anti tesis, justru memberikan tanggapan atau bantahan yang tidak menyentuh titik substansial pengkritik.
Fachry menganggap ada kekeliruan pengkritik dalam menjadikan analogi (Sea Games) sebagai standardisasi acara Almamater Olympic (AO). Sebagaimana paragraf pembuka pada isi poin pertama.
Padahal, sedari awal hingga kalimat terakhir pengkritik tidak menggunakannya sebagai standardisasi, melainkan cerminan bahwa setiap penyelenggara mesti memberikan apresiasi juga perhargaan yang sepadan dengan perjuangan para atlet.
Terlebih, capaian para atlet tersebut tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui proses panjang dan penuh pengorbanan.
Hipotesis sementara penulis, Fachry tidak memiliki upaya untuk menyentuh substansi dari teks kritik, sehingga duduk perkara (Mahâl an-Nizâ’) menjadi tidak sesuai dan tidak tepat. Lebih dari itu, penulis beranggapan, adanya kesan penyelenggara seolah bahkan telah menyepelekan perjuangan para atlet. Seakan-akan hal tersebut bukan bagian penting dari kesuksesan acara. Jika demikian, maka pantas ada kritik atas persiapan yang tidak matang atau luput dari perbincangan penyelenggara.
Silaturahmi yang Kehilangan Makna
Pada tulisan bantahan atas kritik Edi, yang ditulis oleh Haekal Afradi, tidak ubahnnya dengan logika berfikir yang keliru. Kritik minimnya apresiasi atau penghargaan atas perjuangan atlet justru direspon dengan pernyataan bahwa nilai utama acara AO adalah silaturahmi. Respon semacam ini tidak menjawab pokok permasalahan, melainkan mengalihkan pembahasan dari substansi kritik yang disampaikan..
Kalaupun itu menjadi bantahan, penulis analogikan layaknya perjuangan seorang guru yang dihargai hanya dengan himbauan untuk ikhlas. Hal tersebut bisa dimaklumi, apabila menjadi doktrin internal yang melekat pada suatu organisasi. Namun tidak semestinya dijadikan standar yang dipaksakan pada pihak lain.
Lagipula, jika silaturahmi memang dijadikan asas acara ini, tidak bisa dijadikan alasan untuk menyepelekan bahkan mengkerdilkan perjuangan atlet dengan apresiasi seadanya.
Melalui bantahan dan respon, Fachry dan Haekal, semakin menegaskan hipotesis penulis, bahwa terdapat kritik yang tidak seutuhnya dipahami dengan benar dan pengkerdilan atas perjuangan atlet yang turut dalam perlombaan. Oleh karena itu, penulis akan memberikan cara berfikir yang benar.
Ketika kritiknya berupa nihilnya prestasi, maka mestinya respon yang diberikan adalah jawaban dari pertanyaan, “Apakah ada apresiasi yang sepadan akan perjuangan para atlet yang berlomba? Jika tidak ada, maka itu menjadi evaluasi dan tidak perlu mengalihkan permasalahan pada pembahasan yang subtansial dan esensial. Seperti, memperdebatkan analogi, juga menjadikan silaturahmi sebagai asas utama untuk menutupi luputnya penyelenggara akan apresiasi yang sepadan terhadap perjuangan para atlet. Begitupun sebaliknya, jika ada, maka tunjukan.
Walakhir, kritik seyogyanya dijadikan sebagai bahan evaluasi(think deeper) dan tidak menganggapnya sebagai penurunan elektabilitas.
“Criticis is good for creativity” (Harvard Review)