APA SIH MAKNA DIBALIK KATA SENIOR (KAKA TINGKAT)?

Oleh: Faiz Aslam Effendy

Kata “senior“ sering kali terdengar akrab di berbagai lingkungan manapun, mulai dari sekolah, dunia kerja, terkhusus bagi kita yang hidup di lingkungan mahasiswa Al-Azhar Kairo atau bisa disebut dengan MASISIR.

Namun di balik kata yang tampaknya sederhana itu terdapat makna yang terkandung sangat dalam, bukan sekedar hanya “siapa yang lahir duluan” atau “siapa yang lebih dulu makan tho’miyah bil batotis duluan. Akan tetapi ada nilai moral dan tanggung jawab berat di balik kata “SENIOR”.

Secara etimologis, kata senior berasal dari Bahasa latin sanex, yang berarti “orang tua” atau “yang lebih tua”. Dalam perkembangan nya, istilah ini digunakan untuk menyebut seseorang yang memiliki masa atau pengalaman lebih Panjang dalam lingkup tertentu.
Namun, makna “senior” tidak berhenti pada aspek usia atau lama waktu. Dalam konteks sosial, seorang senior kerap dipandang sebagai sosok yang memiliki kedewasaan berfikir dan kemampuan untuk membimbing. Ia menjadi figur yang seharusnya mampu memberi contoh yang baik terhadap adik kelasnya, bukan malah menormalisasi hal buruk

Sayang, dalam praktiknya tidak sedikit yang memaknai kata “senior” secara keliru. Ada yang menggunakannya sebagai alat untuk menunjukkan kekuasaan atau keunggulan atas yang lain. Misalnya ada beberapa senior atau yang sering disebut musyrif rumah, mereka hanya memanfaatkan adik kelasnya untuk tidak bayar uang sewa rumah akan tetapi tidak menjadi figur yang baik dan bertanggung jawab bagi dirinya sendiri bahkan untuk adik kelasnya tersebut.

Hal ini sedang hangat dibicarakan dalam lingkungan masisir khususnya. Melihat acara “Apa Kabar Masisir” yang diselenggarakan oleh PPMI Mesir pada tanggal 7 November kemarin, ada salah satu panelis yang menyampaikan pernyataan sebagai berikut :

“Senior yang mencontohkan hal baik dan tidak menormalisasikan hal yang salah. Ungkapan ini hakikat dari ammar ma’ruf (bil fi’li, bukan halnya bil qauli) dan nahi munkar. Nahi munkar secara khsusus di masisir masih sangat minim. Kita banyak mengajak kepada kebaikan, akan tetapi jika ada kawan, adik kelas yang berbuat kesalahan; enggan untuk memberi teguran (terlebih jika senior yang berbuat salah, upsss). Kalaulah setiap senior peduli dengan menegur adik kelas nya yang merokok atau memakai celana pendek di jalan, berduaan di math’am, yang lupa akan tujuan di Mesir untuk belajar. Niscaya akan sangat mengurangi apa yang sekarang kita saksikan. Jangan sampai sikap acuh menggerogoti kita sebagai senior. Sayangnya tidak sedikit sekarang yang punya sifat acuh terhadap kondisi saudara muslimnya”. Ujar Ustad Ahmad Hadziq Akmal dan Ustad Faqih sebagai panelis pada acara tersebut.

Oleh karena itu, kata “senior” semestinya dimaknai sebagai simbol pengalaman yang disertai rasa tanggung jawab dan sebagai figur yang baik, terkhusus dalam membimbing dalam segi keilmuan yang semestinya akademik dan moral yang senantiasa diajarkan kepada adik kelasnya.

Dalam makna yang paling dalam, senior bukanlah tentang siapa yang datang lebih awal atau bukan tentang siapa yang pernah memakan kibdah lebih dahulu, melainkan siapa yang mampu memberi arti bagi mereka yang datang kemudian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *