Aku, Cinta dan Benci .

Sebuah Cerpen

Yang Di Tulis Oleh : Haikal Kamal

“Kalau cinta lari dariku, kabarkan padanya aku tak akan mengejarnya dan tak pula diam. Biarkan ia datang karena kehendaknya sendiri atau pergi… menghilang.”

Aku mulai mengenal Cinta saat aku masih kecil. Kala itu, ia datang bersama canda tawa perhatian ibu dan ayah. Cinta adalah sahabat masa kecilku. Dia juga sangat baik dan pengertian. Tak ada sedikitpun cacat pada dirinya. Dia seumpama makhluk tuhan paling sempurna yang pernah ada. Darinya, aku belajar banyak hal tentang kehidupan dan hakikatnya.

Dia sering menemaniku berjalan-jalan sore. Menceritakan banyak hal akan masa depan, persiapan menyambutnya dan bagaimana cara menghadapinya. Cinta juga lah yang mengenalkanku akan sang Pencipta. Ia menjelaskan panjang lebar akan keesaan kekuasan Tuhan dan kepedulian-Nya akan hamba-hamba-Nya.

Walaupun terkadang cinta suka menghilang tiba-tiba tanpa arah dan jejak. Tetapi dia tidak pernah meninggalkanku. Laksana anak kangguru yang selalu berlindung di balik kantong induknya, cinta selalu membawa kehangatan untukku.

Sampai suatu ketika musibah itu datang.

“Sudahi murungmu, orangtuamu tak akan kembali walau sejuta tahun kau menangis. Bangkit dan bersabarlah.” Tegas Cinta.

Umurku belum menginjak angka dewasa ketika musibah itu datang. Mendengar hal itu darinya, telingaku terasa panas, tak kusangka dia berani mengucapkan kata-kata tersebut.

“Ayo keluar, perjalanan hidupmu masih panjang! Banyak hal yang bisa kau lakukan di luar sana. Diam dan bersedu tak ada gunanya!” Timpalnya lagi.

Emosiku kala itu tak stabil. Amarah menguasai hati dan pikiranku.  Aku pun melotot kepada cinta.

“Aku tidak butuh motivasi klise yang memekakkan hati. Yang aku butuhkan hanya solusi pasti yang menjamin hidup. Kalau kau hanya datang membawa kata manis yang tak berarti, lebih baik kau mati ditelan bumi!”

Mendengar itu Cinta langsung mengelus dada, pergi. Aku sempat melihat kesedihan dan kekecewaan di pelupuk matanya. Tetapi aku tak peduli. Biarkan dia pergi. Aku tak membutuhkannya lagi.

***

Berhari-hari dalam kesedihan dan duka membuatku sakit. Setelah itu, aku diasuh oleh bibi. Dia merawatku sendirian dengan sangat baik. Bibiku tidak mempunyai anak dan suaminya sudah meninggal satu dasawarsa yang lalu. Sedikit aku melihat harapan hidup dari matanya. Tetapi sayang, itu tak lebih lama dari sebuah hendusan nafas.

Tak berselang lama setelah aku sembuh, bibi terjatuh sakit. Malam itu tubuhnya panas, wajahnya pucat, bibirnya keruh, badannya kaku. Di saat terakhir, dia berpesan padaku agar menjaga diri dengan baik dan meminta maaf karena tidak bisa menemaniku sampai usia dewasa.

Melihat keadaan itu, rasa sedih dan amarah yang sudah mulai reda, kembali melanda seperti banjir. Menghanyutkan rasa optimis dan bahagia.

Sebelum bibi pergi, dia sempat menoleh ke arah pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Tersenyum. Saat itu aku tersadar ia memandangi siapa. Sejurus kemudian aku berlari ke luar pintu, mengejarnya. Cinta. Namun sayang, jejaknya pun tak berbekas.

Rasa amarahku akan Cinta sudah tak bisa ditutup lagi. Sempurna bendungan itu pecah.  Menciptakan Banjir kemarahan yang menghanyutkan segala rasa suka, kegembiraan, dan kebahagian. Hancur.

Pikiranku kosong akan optimisme.

***

Setelah pulang dari pemakaman bibi, aku terjerembab jatuh ke dalam emosi negatif dan dendam. Pada titik ini, kumulai menyalahkan keadaan. Mengingkari dunia dan seisinya. Tak ada lagi yang tersisa untukku di alam fana ini. Terbesit dalam pikiran untuk menyudahi hidup. Mati.

Lalu ia datang.

Laksana pahlawan kesiangan. Seperti malaikat di tengah gurun, yang menolong seorang badui yang hampir mati kehausan. Layaknya seorang dermawan yang memberi makan kepada fakir di penghujung nyawa karena kelaparan.

Benci. Dialah Benci.

Aku melihatnya dengan terpana. Kala itu, ia terlihat lebih menawan dari Cinta.

Dia berdiri tepat di hadapanku yang sedang terduduk lemas. Kemudian, ia menjatuhkan lutut ke lantai dan memegang pundakku.

“Keluarkan! Keluarkan semua amarah itu! Lampiaskan semua!” Tegasnya. Aku menatapnya bingung. Tak mengerti yang ia maksud.

“Amarah itu. Yang membakarmu. Keluarkan semua!”

Seketika aku langsung bangkit, berteriak keras. Menghancurkan perabotan rumah yang berada di sekelilingku. Mengirimkan pukulan keras ke arah dinding dan cermin. Mengambil sebilah tongkat dan mulai memukulkannya kepada  benda apapun yang bisa kugapai.

“Arghhhhhhh….”

Nafasku tersengal-sengal dan suaranya jelas. Kepalaku panas, wajah dan mataku memerah. Kepalan tanganku berdarah sampai tercucur ke tanah. Selepas itu, aku pun terduduk menekuk lutut sambil bersandar ke dinding. Aku memalingkan wajah ke arah bawah.

Lega.

Perasaan yang aku rasakan saat itu. Lega. Entah apa tujuanku melakukan hal tadi, namun hal itu sangat membuat lega. Walaupun tanganku berdarah, tetapi tidak terasa olehku.

“Bagaimana? Melegakan bukan? Aku tahu hanya itu yang kau butuhkan untuk menghadapi hal ini. Dunia ini kejam, sadis, tak ada keadilan di dalam sini! Kau pun harus demikian supaya tidak diinjak siapapun!” Seru Benci tepat di depan wajahku.

Aku merasakan aura besar di sekitarnya. Membara. Begitu panas, tetapi itu yang menghangatkanku kala itu.

“Bergabunglah denganku! Aku akan mengajarimu cara kejam melawan dunia yang kejam.”

Tanpa berpikir sama sekali, seperti dihipnotis, segera kuterima tawarannya. Dia pun tersenyum lebar seolah telah berhasil merekrut prajurit terbaik untuk armada perangnya. Itulah awal mula aku mengenal Benci.

Aku tumbuh dewasa dengan Benci.

Aku mulai melawan dunia dengan cara yang kejam. Tak ada lagi sisi kemanusiaan lagi pada diriku kala itu. Semua yang menghalangi akan kuhabisi. Semua yang melawan akan kusingkirkan.

Aku dikenal sebagai mafia yang kejam. Tak kenal ampun walaupun sebesar satu biji kuaci. Selama amarahku bisa tersalurkan, tak seorang pun  mampu untuk menghentikanku.

Benci telah sempurna mengubahku menjadi orang yang anarkis, dan itu juga efektif membuat orang-orang takut. Amarah dan dendam menjadikanku orang yang sangat kuat, garang dan kaya raya. Aku memiliki segalanya. Namun, entah mengapa  seperti ada yang hilang di kehidupan baru ini.

***

Aku sudah lama tidak mendengar kabar tentang Cinta. Keberadaannya pun menjadi semu. Seakan-akan hilang ditelan bumi dan masa. Kehidupanku yang sekarang mentereng harta, tetapi…

Sepi. Sunyi. Diam.

Itu yang aku rasakan sekarang. Warna kehidupanku statis, hitam legam. Tak ada cahaya yang mampu masuk ke celah kegelapan itu. Tak ada cat warna yang mampu mewarnai kertas kanvas polos keras hidupku sekarang ini.

Kucoba melangkah keluar dari rumahku yang memiliki luas tiga perempat dari stadion sepak bola di kota ini. Mencoba melihat pemandangan sekeliling, menghirup udara segar dan bercengkrama dengan beberapa serangga di daun-daun tumbuhan.

Dulu aku sering melakukan ini dengan Cinta. Dia mengajariku banyak hal tentang serangga. Tiba-tiba saja aku teringat akan filosofinya tentang lebah.

“Kau tahu, di dunia ini banyak sekali keajaiban yang diciptakan Tuhan pada hal-hal kecil. Contohnya pada lebah itu.” Tunjuknya pada seekor lebah yang sedang hinggap di salah satu bunga.

“Lebah hanya menghisap saripati bunga saja, tak lebih dari itu. Hal ini menjadi  pembelajaran bagi kita, bahwasanya setiap manusia harus memiliki rasa cukup akan kebutuhan dirinya dan tidak mengedepankan ego keinginan yang tak perlu.”

Aku manggut-manggut mendengar penjelasannya. Sedikit paham dan banyak bingung.

“Dari saripati bunga yang baik itulah lebah menghasilkan madu. Madu lebah banyak sekali manfaat dan rasanya juga nikmat. Itu mengajarkan kepada kita bahwa jika kita mengerjakan kebaikan, maka kita juga akan menghasilkan sesuatu yang baik pula.”

Aku masih dengan respon yang sama.

“Lebah juga hewan yang sensitif. Hanya saja, dia tidak akan mengganggu bila tidak diusik duluan. Namun, kalau dikacau, maka pantang baginya untuk mundur dari musuh.  Begitulah seharusnya manusia bersikap. Selama orang lain tidak mengganggunya, maka haram baginya untuk mengusik ketenangan orang lain. Tetapi, jika ketenangannya sendiri diusik, maka wajib baginya untuk mempertahankan harga diri.”

Sepanjang perjalanan aku berpikir, apakah aku bahagia dengan hidupku yang sekarang? Memiliki segalanya ternyata bukan jaminan dari kebahagiaan. Tak ada orang yang menyukaiku. Rata-rata mereka memandangku dengan tatapan ketakutan dan balas dendam.

Lantas bagaimana aku keluar dari garis hidup yang sekarang ini?

***

Di ruangan pencahayaan remang-remang seluas lima kali lima meter ini, aku duduk saling berhadapan dengan seorang gadis muda. Wajahnya sangat menawan. Kulitnya berwarna sawo matang dengan hidung mancung dan mata  coklat yang tajam. Tingginya sebahuku dan ia memiliki alis tebal yang terlihat hampir menyatu kiri dan kanannya. Dia adalah salah satu korban kekejamanku. Ibunya telah meninggal pada saat melahirkannya dan ayahnya adalah mantan tangan kananku yang berkhianat.

Dia hampir membocorkan rahasia penting pada pesaing bisnis kami. Mengetahui hal itu, aku langsung mengasingkannya  ke tempat yang sangat jauh dari kota kami. Hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Meninggalkan kampung halaman dan putri kesayangannya. Waktu itu, usia gadis ini masih belia menginjak remaja. Sekarang dia sudah cukup dewasa untuk memaksa penjaga rumah agar bisa menemuiku.

Tatapan yang diberikan gadis ini sangat berbeda dari orang lain. Dia tidak menatapku dengan takut ataupun dendam. Ia menatapku dengan tatapan iba. Seolah-olah mengasihaniku atas… Entahlah, aku juga tak mengerti. Setelah cukup lama kami saling diam bertatapan, akhirnya ia memulai percakapan dengan kalimat yang membuatku bingung.

“Kalaulah kemurnian cinta belum menjadi sebuah tabiat yang menyatu dengan jiwa, maka tidak ada kebaikan pada cinta yang datang secara terpaksa.”

Tatapannya sama sekali tidak berubah dan itu membuatku tak berkutik sama sekali.

“Itulah kata terakhir dari ayahku sebelum kau membuangnya ke antah berantah itu. Niat awalku datang ke sini untuk memaksamu mengembalikan ayahku dan menghabisi nyawamu selepas itu. Tetapi ternyata, setelah bertemu denganmu langsung, aku pun seketika mengerti kau hanyalah korban dari Cinta dan Benci.”

Aku menelan ludah dan termangu.

“Cinta dan Benci. Ya, aku mengenal mereka berdua. Sepasang sifat yang tak bisa dipisahkan dan tak mungkin juga disatukan. Sangat rumit untuk memahami mereka. Rupa mereka terkadang bisa sangat menawan atau sangat menyeramkan. Tergantung bagaimana kau menyikapinya. Namun, ada satu hal yang perlu kau tahu, Cinta dan Benci tidaklah jahat ataupun baik. Mereka seumpama pisau. Kalau kau memakainya untuk kebutuhan dapur, maka dia jadi baik. Akan tetapi, jika kau menggunakannya untuk membunuh jiwa yang tak bersalah, maka dia jahat.

“Ibarat membenci sebuah kejahatan bukanlah perkara yang buruk dan mencintai sebuah keburukan bukanlah hal yang indah. Kau harus meletakkan mereka sesuai dengan tempat dan kodratnya masing-masing.”

Aku masih dengan sikap diam yang sama.

“Kau hanya korban dari kebuntuan pemahaman tentang Cinta dan Benci. Aku merasa kasihan atas kebodohanmu itu.” Setelah mengucapkan semua kalimat tersebut, dia langsung keluar dari ruangan tanpa memperdulikan kebingungan dan kehampaan yang menimpaku sekarang.

***

Aku duduk diam, berpikir, melamun dengan lama.

“Bukan saya yang kejam, tetapi waktu yang tak berperasaan. Waktu lah yang mengambil orangtuamu tanpa pandang bulu.” Suara itu… aku sangat mengenalnya. Cinta.

“Bukan saya yang menjadikanmu orang yang kejam. Tetapi kau sendiri yang menggunakanku sebagai senjata untuk kekejamanmu. Kau sendiri yang menganggapku sebagai pembenaran atas dendam yang kau simpan. Bukan aku yang mengajarimu kejahatan itu, tetapi kau sendiri yang menjadikanku alat.” Ucap Benci. Aku diam seribu bahasa.

“Kami tidak pernah lari darimu. Kami selalu bersamamu. Kami adalah senjatamu. Kita melekat pada jiwa yang sama. Ketika kau ingin cinta, maka Cinta akan hadir. Dan ketika kau ingin benci, maka Benci akan datang. Bukan salah kami jika kau hancur, tetapi salah dirimu sendiri yang terjebak ke dalam lubang ambigu yang tak berujung.”

Malam itu, aku langsung terjatuh ke dalam lautan pemahaman yang selama ini kucari. Semua pemikiran terbang ke dalam bayang-bayang kepala. Aku harus memperbaiki ini semua. Cinta dan Benci, terimakasih…

***

Epilog

“Akhirnya kau sudah keluar dari jurang kesesatan itu.” Sapa si gadis muda.

Aku tersenyum melihatnya. Tak terasa berbulan-bulan berlalu setelah kejadian malam itu, aku kembali ke dalam kehidupan yang seimbang. Ayah gadis itu dan beberapa orang lainnya yang pernah dibuang, akhirnya kupulangkan kembali ke tempat asalnya masing-masing. Semua kekayaan dan kemewahan  kukorbankan demi menebus semua kesalahan masa lalu.

Aku sudah bisa mengendalikan Cinta dan Benci dalam diriku ini. Tak ada lagi keraguan dan kebimbangan dalam hidup. Semua lubang itu sempurna tertutupi.

Aku telah berdamai dengan diri sendiri. Sempurna. Tenang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *