NURHAYATI SUBAKAT: PEREMPUANBERWAWASAN, TANGGUH DANDERMAWAN

Di tengah gempuran tren skincare dan make up yang ramai belakangan ini, siapa sih yang tidak mengenal Wardah? Salah satu merek terkenal dengan branding halalnya, hampir semua produknya menjadi pilihan favorit masyarakat luas. Sudah menjadi hal yang masyhur, bahwa Wardah berada di bawah perusahan Paragon Technology and Innovation (PTI), perusahaan yang turut memproduksi merek-merek terkenal lainnya, seperti Make Over, Emina, Labore, Kahf dan masih banyak lagi.

Jika ingin membahas perusahaan Paragon, rasanya tidak afdal kalau kita tidak membahas sosok penting di balik kesuksesan perusahaan ini terlebih dahulu. Perempuan cerdas yang tidak pernah kehabisan akal dalam berinovasi, salah satu pebisnis andal yang senantiasa rendah hati. Seseorang yang bisa menjadi role model untuk para perempuan di masa kini. Ia adalah Ibu Nurhayati Subakat yang lahir di Padang Panjang pada tanggal 27 Juli 1950.

Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. Masa kecilnya banyak dihabiskan di rumah neneknya di desa Bunga Tanjung. Lokasinya terletak kurang lebih 15 km dari kota Padang Panjang. Hal ini disebabkan oleh ibundanya yang sering jatuh sakit setelah melahirkan adik beliau. Ibu Nurhayati kembali tinggal bersama kedua orang tuanya setelah duduk di bangku SD.

Ketika tinggal dengan neneknya, karakter Ibu Nurhayati perlahan-lahan mulai terbentuk. Neneknya merupakan pedagang yang cukup sukses, seorang ibu tunggal yang berhasil menyekolahkan keempat anaknya. Di banyak kesempatan, Ibu Nurhayati mendengar dari orang lain betapa neneknya terkenal karena memiliki sikap pekerja keras dan disiplin.

Setelah lulus SD pada tahun 1963, Ibu Nurhayati kemudian masuk Pesantren Diniyyah Puteri mengikuti kakak-kakaknya. Di sana, ia belajar berbagai ilmu keagamaan. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, beliau mendapat predikat juara umum semasa SD dan SMP.

Namun, ketika Ibu Nurhayati memasuki tahun ketiga di Pesantren Diniyyah Puteri, bapak yang sangat dicintainya meninggal. Bapaknya merupakan pedagang terkenal di Padang Panjang. Ia juga menjadi Ketua Umum Muhammadiyah di kota tersebut.

Semasa hidupnya, sang bapak sangat kagum dengan orang-orang yang berpendidikan tinggi, sebut saja salah satunya adalah Doktor Zakiah Daradjat, perempuan Indonesia yang berhasil menyelesaikan doktoralnya dalam bidang psikologi di Universitas ‘Ain Syams, Mesir. Dalam benak Ibu Nurhayati masih teringat jelas bagaimana bapak kerap menyebut nama Doktor Zakiah di depan anak-anaknya. Dengan keteladanan yang diajarkan oleh bapaknya, tidak heran jika Ibu Nurhayati beserta saudara-saudaranya berhasil dalam studi yang mereka tekuni.

Selepas menempuh pendidikan di Pesantren Diniyyah Puteri, Ibu Nurhayati melanjutkan sekolah di SMA 1 Padang. Beliau kemudian mengambil jurusan Farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Jurusan ini diambil berkat anjuran ibunya, menurut ibunya bidang tersebut cocok untuk perempuan. Ibunya berharap agar Ibu Nurhayati kelak bisa menjadi dosen dan membuka apotek sendiri. Ketika pengumuman kelususan, lagi-lagi Ibu Nurhayati berhasil menjadi lulusan terbaik.

Pada tahun 1977, seorang laki-laki bernama Subakat Hadi datang melamar Ibu Nurhayati. Setelah menikah ia ikut mendampingi sang suami untuk menetap di Jakarta. Di sinilah karir Ibu Nurhayati dimulai.

Awalnya ia bekerja sebagai apoteker dalam salah satu industri kosmetik. Selama kurang lebih lima tahun, karirnya melesat naik hingga berhasil menduduki jabatan Quality Control Manager. Akan tetapi, setelah memiliki tiga anak, ia mulai merasa kewalahan membagi waktu. Pada saat itu, ia mengingat pesan ibunya agar memilih pekerjaan yang tidak terikat waktu agar dirinya bisa tetap fokus mendidik anak-anak di rumah. Akhirnya, ia memutuskan untuk membangun industri kosmetiknya sendiri.

Ibu Nurhayati memulai bisnisnya dengan membuat industri rumahan dengan dibantu dua karyawan, berbekal latar belakang pendidikan farmasi dan pengalaman kerjanya di perusahaan kosmetik multinasional. Produk pertama yang ia luncurkan adalah produk perawatan rambut yang diberi nama “Putri”. Tidak sampai satu tahan bergelut di dalam industri ini, hampir semua salon yang berada di daerah Tangerang sudah membeli produk Putri. Seiring waktu berjalan, munculah brand-brand lainnya, seperti Wardah dan Make Over.

Selama mendirikan perusahaan ini tentu jalan yang ditempuh tidaklah semulus yang dibayangkan. Semisal, pada tahun 1990, gudang perusahaan ludes terbakar. Produk Wardah pun tidak serta-merta langsung terkenal seperti sekarang. Ada banyak rintangan yang dilalui Ibu Nurhayati. Akan tetapi, dengan kegigihannya Ibu Nurhayati mampu melalui itu semua.

Dalam mengemban tugasnya sebagai pendiri sekaligus Komisaris Utama PTI, Ibu Nurhayati menyimpulkan ada lima karakter utama yang membuat hidupnya menjadi penuh arti. Lima karakter tersebut adalah ketuhanan, kepedulian, kerendahan hati, ketangguhan dan inovasi. Salah satu buku biografi ringkas Ibu Nurhayati bahkan diberi judul “Hidup Bermakna dengan 5 Karakter”.

Mudah sekali bagi kita untuk menemukan berbagai pencapaian Ibu Nurhayati dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Hal ini dikarenakan Ibu Nurhayati berusaha memenuhi tanggung jawab sosial perusahaan yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, dan peduli lingkungan. Sesuatu yang jarang kita dapatkan di perusahaan besar lainnya.

Misalnya, pada bulan September 2023, 120 Paragonian (sebutan untuk karyawan PTI) menanam 10.000 bibit pohon mangrove di Banten. PTI juga pernah memberi dana riset, beasiswa dan infrastruktur senilai 52 miliar kepada ITB. Dalam bidang kesehatan, PTI menyumbangkan dana 40 miliar untuk kebutuhan penanganan pandemi. Adapun dalam bidang sosial, PTI seringkali memberikan bantuan dana untuk membangun masjid, jembatan di daerah pelosok, dan bahkan bantuan kemanusiaan untuk Palestina.

Berkat jasa-jasa yang Ibu Nurhayati torehkan dalam lembaran hidupnya dan pengaruh yang beliau berikan kepada orang banyak, beliau disebut menjadi salah satu dari 25 pebisnis perempuan paling berpengaruh menurut Forbes Asia 2018. Ibu Nurhayati juga merupakan perempuan pertama penerima gelar doktor kehormatan dari ITB. Baru-baru ini, beliau dianugerahi ASEAN Women of Impact Award 2025 oleh ASEAN Public Relations Network (APRN) di Kuala Lumpur, Malaysia.

Perjalanan hidup Ibu Nurhayati Subakat adalah bukti nyata, bahwa ketekunan, kerja keras, serta nilai-nilai luhur dapat mengubah tantangan menjadi peluang. Sosoknya bukan hanya menjadi teladan dalam bidang bisnis, tetapi juga dalam hal kepedulian kepada sesama. Ibu Nurhayati menyadarkan kita betapa kecerdasan intelektual itu harus jalan beriringan dengan kecerdasan emosional, beliau patut dijadikan panutan bagi siapa pun yang ingin memberi makna lebih dalam setiap langkahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *