Oleh: Az-Zahra Fathia
Beberapa waktu lalu, dunia digital dibanjiri oleh berbagai tragedi kemanusiaan: genosida yang tak kunjung usai, konflik antarwilayah, krisis kelaparan besar, pengungsian masif, dan sebagainya. Ribuan kepala berlomba-lomba menuliskan komentar penuh empati. Tak jarang hanya dengan membaca judul besar suatu tragedi dan menekan tombol share ke akun pribadi media sosial sudah dianggap sebagai suatu kontribusi. Namun, esok harinya, tragedi itu dilupakan. Ia menjadi sebuah tren yang timbul kemudian tenggelam.
Menurut KBBI, kata “tren” merujuk pada gaya mutakhir atau sesuatu yang sedang populer dalam suatu jangka waktu tertentu. Tragedi kemanusiaan kini tak lagi hanya menjadi peristiwa untuk direnungi. Ia telah menjelma menjadi tren konten. Sebuah ironi ketika luka dan penderitaan menjadi fenomena massal dan disajikan dalam piring digital penuh engagement, tetapi tak meninggalkan dampak nyata yang berarti.
Benar, media sosial memang dianggap sebagai penyalur suara kaum yang tak terdengar. Akan tetapi, pada tulisan ini, saya hendak mengkritik empati manusia yang sering kali tidak bertahan lama. Ia luntur secepat trending topic berganti. Bahkan opini publik kian berubah-ubah, tergantung pada berita apa yang sedang tersebar dalam kurun waktu tertentu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa empati hari ini mudah tergelincir menjadi performa semata. Kita sudah cukup merasa “melakukan sesuatu” hanya dengan berkomentar dan mengklik tanda share. Padahal, tak sedikit dari kita tidak pernah benar-benar mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, apalagi bertindak lebih jauh.
Kemudian, dengan mudahnya, media sosial mengkotak-kotakkan masyarakat hanya dengan perbandingan antara viral atau tidak viral, serta antara memviralkan atau tidak memviralkan. Seakan-akan mereka yang justru beraksi nyata tanpa viral di dunia maya justru adalah orang jahat yang tidak melakukan apa-apa.
Kita memang hidup di zaman ketika informasi begitu mudah dibagikan. Namun, justru, karena itulah, etika dan kesadaran menjadi hal yang semakin mendesak. Pertanyaannya, apakah ini benar-benar soal kepedulian atau sekadar kebiasaan kita untuk mengikuti tren?
Firman-Nya dalam surat al-Jumu‘ah ayat 5:
مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًاۗ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ٥
“Perumpamaan orang-orang yang dibebani tugas mengamalkan Taurat, kemudian mereka tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal tanpa mengerti kandungannya. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”
Secara tekstual, ayat tersebut ditunjukkan kepada kaum Yahudi. Mereka mendustakan petunjuk Allah Swt. yang berupa Kitab Taurat. Kitab Taurat tersebut tidak dipikulnya dan tidak dilaksanakannya. Mereka mendustakan dan hanya membangga-banggakannya. Orang semacam ini diumpamakan sebagai keledai, seekor hewan bodoh, yang memikul buku-buku.
Walaupun perumpaan dalam ayat ini ditunjukkan kepada kaum Yahudi, tetapi perumpamaan tersebut juga memiliki nilai yang berlaku secara universal serta tetap relevan untuk menjadi intropeksi kita pada masa kini.
Adalah hal yang pasti, tragedi bukanlah sebuah tren. Penderitaan bukanlah sebuah konten. Di balik setiap video yang kita bagikan, ada manusia yang benar-benar terluka. Dan mereka tidak butuh menjadi viral jika hanya dijadikan objek tontonan semata.